Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label Fr Gordi SX. Tampilkan semua postingan

Saat Awam dan Misionaris Bekerja Sama
 
Mbak Emma berjaket biru sedang berbagi pengalaman dengan awam lainnya
Siang itu rasanya dingin sekali. Agak beda dengan hari-hari lainnya. Padahal, pada saat itu juga matahari bersinar terang. Rupanya ada kontras antara matahari dan angin. Memang, dingin itu muncul karena angin yang bertiup kencang.

Dingin itu persis dirasakan di stasiun kereta api di kota Campiglia. Saya dan Frater Berto SX baru saja tiba di stasiun ini setelah melakukan perjalanan panjang dari kota Parma. Panjangnya perjalanan ini rupanya membuat suhu juga berubah. Di Parma, saat kami datang, suhu masih agak panas. Bahkan, di pagi yang cerah pada Minggu 9 April itu Parma masih hangat. Parma akan menjadi panas saat siang sampai sore hari.

Karena suhu Parma seperti ini, saya pun hanya mengenakan kaus dalam, tambah kemeja, dan di luarnya hanya 1 jaket. Dengan ini saja, saya sudah merasa hangat. Bahkan, dalam kereta pertama juga saya harus melepaskan jaket sehingga sisa kemeja dan kaus saja.

Suhu ini rupanya berbeda saat kami berpindah sekitar 250 km ke arah Selatan Italia. Kami datang dari Parma (bagian Utara) dan berpindah ke Piombino, salah satu kota kecil di Provinsi (regione) Toscana (Italia Tengah). Jaraknya yang panjang ini kami tempuh dengan kereta api. Karena jalurnya bukan jalur utama, kami pun harus mengganti kereta sampai 4 kali. Cara ini juga untuk menghemat biaya. Kami bisa mengambil kereta cepat atau super cepat tanpa harus mengganti sampai 4 kali. Sayangnya, biayanya bisa 4 kali lipat dari harga kereta biasa.

Kota Piombino terletak di pinggir laut. Di sebelah depannya, ada Pulau Elba, salah satu pulau milik negara Italia. Di dekat Pulau Elba, ada Pulau Korsica milik negara Prancis. Jadi, dari pantai Piombino—saat cuaca cerah—kami bisa lihat Prancis. Meski dekat dengan laut, kota Piombino selalu dingin. Rasa panas muncul hanya sekitar 2-3 jam. Dari pukul 12 siang sampai 15 sore. Setelah itu, suhu dingin mulai muncul, termasuk pada malam hari.

Di stasiun kota Piombino—tujuan akhir kami—suhu dingin itu makin menjadi-jadi. Saya mulai merasa dingin saat Pastor Carlo Uccelli SX menjemput kami. Untunglah dengan cepat, kami masuk kembali dalam mobil dan segera menuju Pastoran, tempat Pastor Carlo tinggal. Sambil menikmati rasa dingin disertai sinar matahari sore itu, ingatan saya masih membayang-bayang suasana perjalanan kami. Ganti kereta, tunjukkan tiket, naik turun ruang tunggu dan stasiun, menunggu kereta, hingga tertidur di kereta khususnya yang jaraknya panjang.

Ingatan ini segera hilang, saat kami tiba di Pastoran. Mbak Emma, misionaris awam yang membantu Pastor Carlo menyapa kami lalu mempersilakan kami masuk kamar makan. Di sini, kami ngobrol sebentar sambil menikmati minuman ringan. Rasa lapar tidak muncul meski kami makan pada pukul 12.30, tepatnya di stasiun ketiga. Rupanya energi yang dihasilkan beberapa potong roti pagi itu cukup kuat untuk mengganjal rasa lapar.

Untuk menghangatkan suhu badan, saya mengambil beberapa gelas minuman ringan itu. Ini cukup untuk menghangatkan badan. Badan saya memang pada akhirnya mulai hangat lagi. Lebih hangat lagi saat saya menambah 1 jaket lagi. Jadi, dengan kaus dalam, kemeja, plus 2 jaket, rasa hangat itu sudah muncul lagi.

Dengan rasa hangat ini, saya pun percaya diri untuk ikut keliling melihat kota Piombino bersama Pastor Carlo. Tanpa menunggu lama, saya segera membereskan tas di dalam kamar, mengambil tas kecil berisi dokumen, dan juga kamera saku. Ini sudah cukup untuk berjalan-jalan. Perjalanan sore ini memang tidak lama. Kota kecil berpunduk 34.068 jiwa ini hanya butuh kurang dari 1 jam untuk mengelilinginya. Kami memang berkeliling hanya dalam 45 menit dengan mobil.  

Pastor Carlo membimbing para awam menjadi misionaris
Pastor Carlo SX bekerja di kota ini lebih kurang hampir 30 tahun. Sebelum datang ke sini, dia bekerja di Republik Demokratik Kongo. Pengalamannya bekerja di Kongo membuatnya makin lincah menghadapi kondisi umat di kota Italia Tengah ini. Berbeda dengan Kongo, di kota Piombino ini tidak banyak umat yang datang ke gereja pada hari Minggu. Ini memang menjadi ciri khas hampir setiap kota di Italia. Juga dengan alasan banyaknya gedung gereja dan misa pada hari Minggu. Tampak hanya sedikit umat yang hadir. Tetapi kalau digabungkan semuanya—termasuk yang mengikuti misa di kapel kecil—jumlahnya amat banyak. Jadi, sebenarnya masih banyak umat yang pergi ke gereja meski tampak sedikit di setiap gereja.

Kehadiran Pastor Carlo di Keuskupan Massa Marittima Piombino ini membawa gaya pastoral baru. Dia membentuk kelompok awam misionaris. Untuk tujuan inilah, dia tidak menolak tawaran uskup untuk mengambil 2 paroki. Sampai saat ini, kedua paroki itu menjadi contoh gaya pastoral bermodel misionaris. Pastor Carlo tinggal di Paroki Vergine Santissima del Rosario sedangkan di Paroki San Bernardino di Siena tinggal satu keluarga awam misionaris. Di 2 paroki ini, diadakan misa setiap hari Minggu. Itulah sebabnya Pastor Carlo mempersembahkan misa 1 di Paroki Rosario lalu misa ke-2 di Paroki Bernardino. Untuk administrasi, keluarga awam misionaris-lah yang membantu Pastor Carlo.

Keluarga awam misionaris ini hanya satu dari beberapa keluarga yang dibentuk oleh Pastor Carlo. Mereka mendapat pembinaan selama 3 tahun, lalu harus berangkat ke tanah misi minimal 5 tahun. Pilihan ini boleh dibilang radikal. Sebab, mereka rela kehilangan pekerjaan di Italia dan harus bekerja di tanah misi. Lalu, kembali ke Italia dan harus mencari pekerjaan baru lagi.

Dari pengakuan beberapa awam yang kami jumpai, mereka pada umumnya senang bisa bekerja di tanah misi. Mereka melihat ini sebagai sebuah pengalaman iman. Mereka sebelumnya sudah merencanakan dengan matang tentang hidup mereka termasuk konsekuensinya. Beberapa dari mereka bahkan membawa serta anak-anak yang masih kecil ke Mozambik-Afrika. Anak-anak mereka sekarang sudah besar dan berkeluarga. Keluarga lainnya pernah bermisi di Cina, Brasil, Tunisia, dan sebagainya.

Dengan modal itulah, Pastor Carlo tidak segan dan takut mempercayakan administrasi paroki kepada satu dari keluarga awam misionaris yang dibentuknya. Para awam misionaris ini bekerja seperti pemancing iman. Merekalah yang bergerak dari rumah ke rumah, mengajak keluarga Katolik untuk terlibat dalam kegiatan gereja. Hasilnya cukup memuaskan. Banyak umat yang tadinya seperti ‘tidak mengenal gereja’ sekarang datang dan ikut ke gereja. Keluarga awam misionaris bersama Pastor Carlo membentuk banyak kegiatan di paroki seperti kelompok bacaan Injil, kelompok masak, kelompok sekolah untuk anak-anak dan remaja, dan sebagainya.

Jasa para awam ini amat besar untuk kelangsungan paroki selanjutnya. Dengan jasa ini juga, mereka membantu saya dan Fr Berto selama 4 hari berada di 2 komunitas paroki ini. Kami datang untuk membantu Pastor Carlo memberkati rumah-rumah selama masa Pra-paskah. Tradisi pemberkatan rumah ini amat kuat di Italia. Namun, banyak paroki melupakannya. Untunglah masih ada yang masih terus melanjutkan praktik pemberkatan ini.

Setiap hari—dari Senin sampai Rabu—kami mengunjungi keluarga Katolik di 2 paroki ini. Sore hari adalah waktu yang tepat meski ada juga yang persis bekerja di waktu itu. Dibantu oleh 1 orang dari paroki, kami berangkat ke setiap rumah. Sehari bisa lebih dari 20 rumah yang kami kunjungi. Tidak semua rumah kami singgah sebab ada juga yang pemiliknya masih di tempat kerja.

Kami berdialog sejenak sebelum memberkati rumah. Dalam dialog kecil ini, kami mempresentasikan identitas kami serta tujuan kedatangan kami. Di sini agak mudah karena ada awam yang membantu apalagi dengan menyebut nama Pastor Carlo. Kami yang orang asing ini pun dalam sekejab menjadi bagian dari umat paroki. Dengan ini, acara pemberkatan rumah berjalan lancar.

Secara teologis, pemberkatan rumah ini adalah simbol kehadiran Tuhan yang datang mendekati kita pada masa Prapaskah ini. Demikian penjelasan Pastor Carlo saat saya tanya motif acara ini. Melalui frase inilah, kami mewartakan Injil kepada setiap keluarga ini.

Seperti para rasul, kami merasa senang bisa diterima dengan baik oleh para umat. Tetapi tentu ada kurangnya. Terutama saat pemilik rumah mengatakan, maaf, kami tidak butuh berkat, terima kasih. Ini memang menjadi hal biasa dalam budaya Italia. Penolakan halus dan sopan seperti ini mengajarkan pada saya untuk menerima kenyataan. Setelah ngobrol dengan awam yang mendampingi, saya pun tidak merasa putus asa saat berhadapan dengan umat seperti ini. Kita memang tidak boleh memaksa. Kita hanya menawarkan saja.

Penolakan seperti diimbangi dengan penerimaan yang muncul dari hati. Beberapa dari para umat merasa terima kasih pada kami karena telah mengunjungi mereka. Mereka merasa seperti sebuah anugerah bisa dikunjungi oleh gembala gereja. Dalam dialog kami, mereka mengungkapkan rasa ini. Kadang-kadang dialog ini menjadi sebuah curahan hati bahkan menjadi saat untuk menangis.

Kami berjumpa dengan beberapa keluarga yang hidup sendiri. Hanya ada suami dan istri. Anak-anak mereka tinggal di rumah lain karena sudah berkeluarga. Ibu dalam keadaan sakit. Sang suami pun melayaninya dengan sabar. Kadang-kadang pelayanan ini berat sekali terutama untuk mereka yang hanya bisa hidup di atas tempat tidur saja. Seorang bapak sambil meneteskan air mata berujar, saya mau mati tanpa penderitaan seperti yang dialami istri saya.

Kalimat ini mengungkapkan betapa hidup kadang-kadang menjadi sulit sekali. Beberapa keluarga yang kami jumpai sedang mengalami situasi ini. Ada yang bahkan terpaksa hidup sendiri karena istri/suami meninggal. Dalam suasana sepi dan sendiri seperti ini, kunjungan kami menjadi amat berarti. Maka, dalam waktu yang singkat itu, kami berusaha untuk mendengar saja cerita mereka.

Kunjungan sambil memberkati rumah ini rupanya mampu membuat hidup beberapa umat berubah. Perubahan ini menjadi bagian dari pengalaman iman mereka. Ini yang diungkapkan oleh beberapa awam yang mendampingi saya. Satunya berujar, Gordi, saya dulunya ateis, sekarang menjadi percaya pada Tuhan. Meski saya tidak suka pada sistem organisasi gereja, saya tetap percaya pada Tuhan yang hadir dalam wajah gereja.

Ini kiranya sebuah ironi antara iman dan pengalaman gereja. Semoga tradisi berkat rumah ini tetap hidup dan mampu membawa manfaat bagi pengalaman iman umat.

Salam hangat dari Piombino.


Gordi SX 

[Artikel ini sudah dimuat di Buletin Xaverian Jakarta edisi April-Mei 2017]

Pastor Agusto Luca SX: Xaverian Pertama Capai 100 Tahun
 
Pastor Augusto Luca capai 100 tahun
“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”

Demikian bunyi mazmur 90 ayat 10. Mazmur itu menggambarkan kehidupan manusia. Tampak seperti hitungan Matematika. Rupanya umur manusia hanya 70 tahun. Manusia yang kuat akan mencapai 80 tahun.

Memang, umur manusia bisa dibuat dalam sistem hitungan Matematika seperti ini. Kita tidak bisa memungkirinya. Banyak fakta mengikuti sistem hitungan ini. Di Indonesia misalnya umur 70 tahun sudah digolongkan usia tua. Apalagi 80 tahun. Tetapi di belahan dunia lain seperti di Eropa, keadaannya bisa berubah. Umur 70 tahun di Italia misalnya masih dikatakan ‘masih muda’. Ukuran ini dilihat muda karena usia tua dipatok pada kisaran 80-an atau 90-an ke atas.

Tanggal 21 April 2017 ini, keluarga besar Serikat Misionaris Xaverian boleh berbangga. Satu dari para misionarisnya genap berusia 100 tahun. Usia yang boleh dibilang sebuah anugerah. Dia sudah melewati ukuran usia a la mazmur 90. Dia juga sudah melewati usia kuat dalam kategori Kitab Suci itu. Bahkan, bonusnya adalah 20 tahun.

Suasana Santuario Conforti-Parma pada Misa 100 tahun P Luca SX

Xaverian itu tidak asing lagi di telinga kita. Dia adalah Pastor Augusto Luca SX. Lahir pada 21 April 1917 di daerah Molvena, kota Vicenza, Italia. Pastor Luca—demikian sapaannya—terkenal karena kiprahnya dalam dunia tulis menulis. Melalui dunia tulis menulis inilah, dia bersentuhan secara tidak langsung hampir dengan semua Xaverian di seluruh dunia. 

Buku yang saya baca saat masuk Xaverian pada tahun 2005 yang lalu adalah buah karya Pastor Luca. Dia memang menulis banyak biografi para Xaverian. Mulai dari biografi Sang Pendiri, Santo Guido Maria Conforti. Biografi para Xaverian di Cina, Jepang, dan sebagainya. Di tangannya, biografi itu menjadi sesuatu yang menarik.

Pastor Luca memilih jalur menulis biografi sejak 1950. Saat itu, dia sudah aktif menulis di berbagai media Xaverian dan berbagai media lainnya. Setahun sebelumnya (1949), dia menjadi pemimpin redaksi sekaligus ikut mendirikan majalah Oltremare di Roma. Majalah ini dikelola oleh Pontificie Opere Missionarie (Salah satu Komisi di Vatikan yang mengurus perihal misi dari para misionaris).

Bagi Pastor Luca, usia 100 tahun adalah sebuah anugerah. Itulah sebabnya, selain berterima kasih pada Tuhan, dia juga mengucap syukur atas usia ini. “Para pemimpin dari Kongregasi meminta saya untuk menyampaikan homili pada misa ini sehingga saya pun berbicara di hadapan kalian sekarang ini,” kata Pastor Luca dalam homili pada Misa 100 tahunnya di Santuario Conforti, Parma, Senin 17 April 2017.

Pastor Luca-sebelah Kanan--dalam homili misa 100 tahun

Misa sekaligus perayaan Paskah ke-2 ini dipimpin oleh Provinsial Xaverian Provinsi Italia Pastor Rosario SX. Pada awal misa, Pastor Rosario mengajak umat untuk belajar dari Pastor Luca SX. “Dia adalah contoh sekaligus saksi bagi kita. Sikap kesetiaannya sebagai seorang religius patut kita tiru,” tutur Pastor Rosario.

Sikap kesetiaan ini memang melekat pada diri Pastor Luca. Sejak kecil, dia sudah diancang-ancang untuk menjadi seorang pastor. “Saya dibaptis beberapa hari setelah lahir. Sebelum berumur 5 tahun, pastor paroki saya menilai bahwa saya adalah anak yang cerdas. Hasilnya, saya pun menerima sakramen Krisma sebelum berusia 10 tahun. Saat itu juga, pastor paroki mengatakan, kamu nanti cocok jadi pastor,” cerita Pastor Luca dalam homilinya.

Ingatan akan peristiwa masa kecil ini adalah salah satu bukti kesetiaan Pastor Luca. Ingatan itu bukan saja sebagai sejarah tetapi juga titik tonggak untuk selalu setia pada panggilannya. Kesetiaan ini juga yang ia bawa sampai usia 100 tahun. Kesetiaan untuk menekuni dunia tulis menulis misalnya. Tahun lalu, dia memublikasikan 2 buah buku. Satunya tentang Sejarah Gereja pada Abad-abad Pertama dan satu lagi tentang Pengalamannya pada Misi di Jepang.

Pastor Luca tidak lama bekerja di daerah misi tetapi kesetiaanya untuk menulis tentang misi begitu kuat. Setelah ditahbiskan pada 28 Maret 1943, Pastor Luca tidak langsung dikirim ke tanah misi. Dia bermisi di Italia sampai tahun 1951. Berbagai tugas dia emban pada masa itu. Mulai dari redaktur beberapa majalah Xaverian sampai pada menulis aspek misionaris dalam kehidupan para awam.

Umat yang hadir

Setelah berbagai tugas awal itu, penugasan ke tanah misi pun tiba. Dia berangkat ke Jepang pada 1951. Di sana, dia tinggal selama 15 tahun sampai 1966. “Saya mencintai umat Jepang. Sayangnya saya berkontak langsung dengan mereka hanya 3 tahun dari tugas misi saya,” katanya saat kami meminta beliau menceritakan misi di Jepang.

Pastor Luca memang hanya 5 tahun tinggal di paroki. Pada 2 tahun awal, dia belajar bahasa Jepang. Sisanya berdialog dengan umat dan pelayanan lainnya. Setelah itu, dia menjadi pemimpin untuk beberapa periode. Menjadi pemimpin di Jepang rupanya pintu awal baginya untuk menjadi pemimpin pada tingkat yang lebih tinggi. Setelah tahun 1966, dia dipanggil ke Italia dan menjadi anggota penasihat dewan Jenderal di Roma.

Masa-masa ini dia gunakan untuk mengunjungi berbagai daerah misi Xaverian. Dari Afrika ke Asia, dari Amerika ke Eropa. “Saya berkunjung ke Indonesia lebih dari satu kali. Saya masuk Kepulauan Mentawai dan komunitas Pekanbaru,” ceritanya pada saya pada suatu hari. Kunjungan inil menjadi sarana baginya untuk mencicipi kehidupan dan karya para misionaris Xaverian. Dari kunjungan ini, lahir banyak buku biografi tentang para misionaris.

Setelah menjadi dewan penasihat, Pastor Luca tidak kembali ke Jepang. Dia terus bermisi di Italia sampai usia 100 tahun ini. Beberapa tugas pentingnya adalah menjadi Sekretaris untuk Komisi Para Biarawan/wati di Keuskupan Parma. Dia juga pernah menjadi Vikaris Uskup bidang Hidup Religius.

Potong Kuenya

Di tataran kongregasi, Pastor Luca memegang peranan penting. Dia pernah menjadi Rektor di Rumah Studi Kolegio Internasional di Roma. Saat ini, Rumah Ini disebut Collegio Conforti. Di Roma juga Pastor Luca menjadi Postulatore (mengurus perihal proses menjadi Beato atau Santo) untuk Guido Maria Conforti. Dia mengemban tugas ini sampai Conforti diberi gelar eroicità delle virtù pada 1982. Gelar ini diberikan oleh Gereja Katolik melalui 1 komisi di Vatikan. Dari gelar ini biasanya tinggal selangkah lagi menjadi Beato.

Banyaknya tugas ini tidak membuat Pastor Luca lupa akan dunia tulis menulis. Terhitung sampai saat ini dia sudah menulis lebih dari 50 judul buku. Ratusan artikel juga tersebar di banyak media Italia. Buku tentang Santo Conforti adalah yang banyak diterjemahkan—termasuk ke dalam Bahasa Indonesia. Buku lain juga diterjemahkan ke berbagai bahasa khususnya yang berkisah tentang para Pendiri atau Anggota Kongregasi tertentu di Italia. Pada umumnya, berciri biografi.

Dengan bakat dan ketekunan ini, Pastor Luca menelusuri dan menjalin relasi dengan banyak kongregasi di kota Parma dan di Italia pada umumnya. Itulah sebabnya pada Misa 100 tahun kemarin, banyak anggota kongregasi para suster di kota Parma yang hadir. Untuk mereka, Pastor Luca meninggalkan buku biografi yang bersejarah. Misalnya, buku tentang kehidupan seorang Suster Ursulin asal Vietnam. Suster ini berasal dari keluarga keturunan Cina. Amat bagus kisah hidupnya untuk dibaca.

Cina dan juga beberapa negara lainnya seperti Jepang dan Indonesia di Asia memang menjadi bidikan tulisan Pastor Luca. Dia menulis beberapa buku tentang beberapa Misionaris Jesuit di Jepang dan Cina. Dia juga menulis tentang para Xaverian yang berkarya pada awal masa misi di Cina. Termasuk beberapa yang menyentuh Tibet dan Bangladesh (saat itu masih menjadi bagian dari Pakistan). Untuk Indonesia, Pastor Luca juga menulis banyak artikel.

Merenungkan usia 1 abad ini, kita kiranya boleh belajar dari Pastor Luca SX. Dari sistem hitungan pemazmur, kita boleh menilai bahwa Pastor Luca mendapat ‘bonus umur’ dari Tuhan. Ayat mazmur itu memang amat bagus untuk direnungkan. Seorang ahli Kitab Suci di Italia—sekarang bermisi di Kamerun—Pastor Renzo Larcher SX mengatakan melalui ayat itu, pemazamur mau mengatakan 2 hal pokok.

Pertama, meminta kekuatan pada Tuhan. Pastor Renzo mengatakan, “Kita butuh bantuan Tuhan dalam masa sulit. Maka, kita boleh meminta penghiburan saat kita dilanda kesedihan. Kita boleh meminta kekuatan saat kita dilanda kelemahan fisik maupun psikis. Sebab, keduanya kita alami dalam petualangan hidup kita.”

Kedua, meminta rahmat kesetiaan pada Tuhan. “Bagi orang-orang dalam Kitab Suci, setiap kesulitan menjadi tidak berarti tanpa kehadiran Tuhan.” Itulah sebabnya—tulis Pastor Renzo—kita boleh meminta rahmat kesetiaan pada Tuhan untuk karya-karya dan kerja kita di dunia ini. Penjelasan ini menguatkan kita untuk memaknai pekerjaan harian kita. Sebab, “Di luar Aku, kalian tidak dapat berbuat apa-apa,” (Yoh. 15,5).

Kue 100 tahun

Suka duka sudah dialami oleh Pastor Luca dalam usia 100 tahun ini. Namun, bertambahnya usia ini kiranya amat berarti bagi keluarga besar Xaverian dan juga bagi sejarah misi dalam Gereja Katolik pada umumnya. Kapan ya, para Xaverian Indonesia mengikuti jejak Pastor Luca?

Semoga beberapa dari mereka mencapai usia ini dan juga menjadi penulis tentang misi Xaverian di Indonesia. Tentu dengan bantuan umat yang bekerja sama dengan para Xaverian dalam mewartakan Kerajaan Allah bagi mereka yang belum mengenal-Nya.

Salam dari Parma. TANTI AUGURI untuk Padre Augusto Luca SX.


Gordi SX     

P Marini berbaju batik bersama para sahabat di Jakarta-Indonesia



BERITA DUKA: Telah meninggal dunia dengan tenang, Pastor Francesco Marini SX di Rumah Induk Xaverian di Parma, Italia, pada Selasa, 24 Mei 2016 sekitar pukul 08.34 waktu Parma. Pastor Marini lahir di kota Ascoli, Italia pada 19 November 1940. Misa requiem di Parma akan diadakan pada Kamis, 26 Mei pukul 14.30. Di Indonesia, di Paroki St Matius Bintaro (tempat tugas P Marini SX, sebelum pindah ke Skolastikat Filsafat-Jakarta), akan diadakan pada Kamis, 26 Mei pukul 19.00 WIB. RIP. 

DARI JAKARTA KE PARMA MENJENGUK P MARINI SX

senyum penuh cinta



Cinta itu tidak mengenal batas. Tidak ada geografi cinta. tidak ada juga ruang cinta. Tidak ada masa cinta. Cinta itu betul-betul di luar tempat 
dan 
 waktu. 


Kira-kira begitulah gambaran singkat tentang cinta. Cinta itu menggerakkan kita. Yang semula jauh jadi dekat. Cinta itu juga-lah yang menggerakkan Pak Raymond dan Ibu Grace dari Bintaro-Jakarta, Indonesia untuk datang mengunjungi Pastor Marini SX di Parma, Italia. 

Datang dari Bintaro membawa sejumlah salam dari para sahabat. Melalui kota Roma dan Vatikan dan akhirnya berlabuh juga di Parma, kotanya para Xaverian yang juga sudah akrab di telinga para sahabat di Bintaro.

Bersama Romo Marsel SX dari Roma ke Parma. Di Parma, Pastor Marini SX sudah menunggu bersama kontingen Xaverian muda Indonesia (Diakon Pandri SX, Frater Gordi SX, dan Frater Berto SX). Pertemuan itu pun sudah direncanakan. 

kontingen Indonesia di Parma


Tiba di Parma hari Minggu, 24 April pada siang hari. Bertemu sebentar dengan P Marini lalu mengikuti makan siang bersama para misionaris Xaverian yang sudah pernah hidup di daerah misi di 20 negara di mana Xaverian berkarya.

Sore hari, sesuai janji sebelumnya, bertemu P Marini di lantai 4 rumah induk Xaverian di Parma. Pertemuan itu pun selalui diwarnai rasa cinta mendalam. Cinta umat untuk pastor parokinya. Kata Pak Raymond, kami membawa banyak salam dari teman-temannya Pastor di Bintaro St Matius dan San Mare. Pastor Marini tersenyum sekaligus terharu mendengarnya. Cerita demi cerita pun dilantunkan. Pastor Marini makin terharu sehingga tiba-tiba saja air mata menetes begitu saja. Inilah cinta. Cinta itu membuat air mata turun begitu saja.

cerita menyenangkan sekaligus mengharukan


Mengakhiri pertemuan singkat ini, kami tak lupa berdoa untuk P Marini. Maka, bersamanya, dan juga Pastor Alevi SX yang pernah bertugas di Indonesia, kami menuju kapel di sebelah ruang rekreasi para pastor di lantai 4. Menghaturkan doa bersama lalu pamit.

Terima kasih banyak atas kunjungannya Pak Raymond, Ibu Grace, bersama Romo Marsel SX dari Roma. 

Kita tetap mendoakan agar Pastor Marini tetap kuat dan lekas sembuh.* [Grd]

Mgr Natale Paganelli dalam misa komunitas dengan
para Frater Teologan Xaverian Parma

Ada kalimat populer yang mengatakan Kita boleh merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan. Di sini tampak ketakberdayaan manusia di hadapan Tuhan. Manusia seolah-olah seperti pelari. Dia berlari mencapai garis akhir, tetapi pada akhirnya tim juri yang menentukan sang juara. Pelari itu sama sekali tidak punya hak untuk menentukan sang juara. Dia hanya menjalankan targetnya untuk menjadi juara. Dengan kata lain, dia hanya merencanakan. Bukan memutuskan. Kalau rencananya tercapai bagus, tetapi kalau tidak jangan kecewa.

Uskup Natale Paganelli SX beberapa waktu lalu menyampaikan sebuah kejutan yang bermanfaat kepada para frater Xaverian di Komunitas Teologi Internasional di Parma, Italia. Dia mengatakan, Jangan Takut Mengubah Program Hidup.

“Hari ini kalian belajar sambil membayangkan indahnya daerah misi nanti. Bahkan, menentukan ke mana kalian akan pergi. Tetapi, jika nantinya, Pastor Jenderal atau Pastor Provinsial menentukan yang lain, jangan kecewa,” katanya dalam khotbah.

Perkataannya ini bukan ide belaka. Dia mengatakan ini dari pengalamannya. Rupanya dia sudah ‘makan garam’ dalam hal mengubah program hidup. Dari sejak frater teologan di Parma sampai menjadi uskup di Keuskupan Makeni, Sierra Leon.

“Saya ingin pergi segera ke daerah misi setelah tahbisan. Tetapi Pemimpin Kongregasi malah menugaskan saya di Italia, tepatnya di kota Salerno, Italia Selatan,” katanya mengawali sharing­-nya.

Dia sama sekali tidak suka ditugaskan di Italia. Dia mau segera ke daerah misi. Demi ketaatan kepada pemimpin, dia menjalankan tugas itu. Dia pun berangkat ke Salerno.

Perubahan baru pun datang. Setelah sekian waktu di sana, datang tawaran untuk pergi ke daerah misi. Kali ini tujuannya adalah Meksiko, Amerika Latin. Dia langsung menjawab YA atas tawaran ini. Dia ingin keluar dari Italia. Dia ingin ke daerah misi. Motifnya adalah segera keluar dan berangkat ke daerah misi. Meski, dalam hatinya ada seruan “Saya tidak mau ke Meksiko,“ katanya dengan nada berbisik-bisik.
 
"Biarlah Tuhan yang mengubah program hidup kita," Mgr Paganelli SX
Dengan dorongan segera ke daerah misi, dia berangkat ke Meksiko. Dengan perasaan tidak suka juga, dia menerima tugas ini. Di Meksiko rupanya ada satu hal yang mengubah hidupnya. Dia tidak percaya jika perubahan itu datang dari dirinya. Dalam dirinya hanya ada satu perasaan, saya tidak suka datang ke Meksiko. Tetapi perubahan itu rupanya datang dari luar dirinya. Perubahan itu kuat sekali bahkan melampaui kekuatannya. Perubahan itu mengubah dirinya. Dari tidak suka menjadi suka. Ya, akhirnya dia menyukai misi di Meksiko.

Dia menceritakan salah satu pengalaman yang berkesan selama bermisi di sana. Pengalaman ini adalah pengalaman iman baginya.

“Saya kagum dengan iman orang kecil di Meksiko. Suatu hari saya ikut berziarah bersama umat. Jaraknya jauh. Perjalanan pun membuatnya capek. Tetapi, umat tetap semangat berdoa dalam peziarahan itu. Ada yang sampai tertidur di jalan. Bahkan, di dalam kereta karena kelelahan. Tetapi, mereka tidak lupa berdoa. Mereka datang menemui saya dan ingin mengaku dosa. Saya yang belum terlalu lancar berbahasa Spanyol saat itu, jadi lancar seketika,” cerita putra Conforti yang berkarya selama 22 tahun di Meksiko ini.

Pengalaman ini mengubah hidup Uskup Paganelli SX. Imannya dikuatkan lewat iman orang kecil ini. Tuhan mengirimnya untuk belajar dari orang-orang kecil ini.

Pengalaman inilah yang membuatnya semakin mencintai daerah misinya di Meksiko. Bahkan, dia berhasil menjalin relasi dengan banyak orang. Banyak sahabatnya yang membantu dia selama bermisi di Meksiko. Tugas menjadi provinsial Xaverian di Meksiko pun dia terima dengan senang hati. Ia yakin Tuhanlah yang akan menuntunnya menuju jalan-Nya seperti Tuhan menuntun dia untuk bertemu dengan orang-orang kecil dalam peziarahan itu.

Dari Meksiko ke Sierra Leone. Tugas di negara di Benua Afrika ini tidak mudah. Katanya, salah satu kata yang pas untuk menggambarkan misi di Sierra Leone adalah kesulitan. Dia pun menghadapi kesulitan selama bermisi di sana, dan sampai saat ini juga. Tetapi, dia juga yakin, dalam kesulitan inilah Tuhan datang membantunya, sampai mengubah program hidupnya. Dia pun menjadi sadar, Tuhan sendirilah yang membuat program hidup untuk dirinya. Kesulitan baginya kini menjadi saat-saat yang indah untuk memilah-milah bahkan sampai mengubah program hidupnya.

Di Siera Leone, dia pernah mengemban tugas sebagai Provinsial Xaverian. Dia menjalani tugas ini sampai selesai. Setelah selesai satu periode, dia membuat program hidup yang baru. Program itu dia komunikasikan dengan Jenderal Xaverian di Roma. Ada bocoran dari program hidup itu.

“Saya sudah membicarakan dengan Pastor Rino Benzoni SX (Pastor Jenderal saat itu) untuk membuat program yang baru. Mungkin, saya akan kembali ke Italia entah untuk animasi atau kebutuhan lain,” kata Xaverian yang masuk Sierra Leon sejak tahun 2005 ini.

Rencana ini rupanya tidak terealisasi. Tuhan menghendaki yang lain. Tuhan memanggilnya untuk mengemban tugas yang baru, yang kesulitannya lebih besar. Duta Besar Vatikan untuk Sierra Leon Mgr Miroslaw Adamczyk memintanya untuk menjadi administrator Keuskupan Makeni. Dia berkonsultasi dengan para pemimpin Xaverian di Roma dan di Sierra Leon tentang tawaran ini. Akhirnya, dia pun menerima dengan harapan bahwa dia hanya sebagai administrator saja.

Dia tahu tugas ini sulit. Keuskupan Makeni saat itu sedang mengalami kesulitan. Uskup yang terpilih rupanya tidak diterima oleh umat. Uskup itu tidak diizinkan untuk masuk Keuskupan Makeni. Pastor Paganelli saat itu sudah mengetahui masalah ini dan berusaha untuk menjadi jembatan antara umat dan hierarki gereja. Dia pun mulai mengunjungi umat. Sambil menjalankan tugasnya, dia juga mendapat tawaran baru lagi dari Duta Besar Vatikan. Kali ini tawaran itu bersifat ‘sudah jadi’.

“Dia meniru ucapan Duta Besar bahwa, dia sudah memberitahukan ke Roma (Vatikan) bahwa Pastor Paganelli akan menerima tahbisan uskup,” kenang Uskup yang ditunjuk oleh Paus Fransiskus pada 18 Juli tahun 2015 ini.

Tawaran ‘sudah jadi’ ini membuatnya tak berdaya untuk sementara. Tetapi dia ingin mencari jalan keluar. Pertama, dia berbicara dengan pemimpin Xaverian. Kedua, dia juga berbicara dengan pihak ‘yang dituakan’ dalam Keuskupan. Ada imam dan juga tokoh masyarakat. Dia hanya ingin tahu reaksi umat dan apa kira-kira yang terjadi jika dia menerima tugas ini. Dia tahu, dia seorang pastor asing dan ini yang membuat umat Makeni tidak mudah menerimanya.

“Meski Xaverian sudah terkenal di Keuskupan ini, karena Xaverianlah yang mendirikan Keuskupan, sebenarnya itu tidak menjamin kemudahan saya masuk sebagai uskup,” sambungnya lagi.

Dia tahu maslah berat lainnya seperti ada beberapa imam diosesan yang berambisi jadi uskup, ada yang tidak ingin uskup dari luar, dan sebagainya. Masalah inilah yang menjadi ketakutannya. Jawaban pun datang. Dari dua pihak yang ia tanya, tidak satu pun yang keberatan. Dari pihak Xaverian OK, dari pihak yang dituakan di Keuskupan OK. Akhirnya, dia mengiyakan lagi tawaran Duta Besar Vatikan. Dia pun ditahbiskan menjadi Uskup pada 31 Oktober 2015 yang lalu.

Kini dia berkarya sebagai Uskup di Keuskupan Makeni. Hari-harinya tetap menjadi hari yang tersulit baginya. Tetapi, dia selalu yakin, Tuhannlah yang menguatkannya. Dia tahu, Tuhan akan mengubah rencananya yang tidak sesuai dengan rencana Tuhan. Salah satu perubahan rencana itu adalah ketika dia menginginkan suasana kekeluargaan—seperti dalam keluarga Xaverian—dalam rumah keuskupannya. Dia hampir saja mengajak seorang Xaverian untuk menemaninya. Tapi, rencana itu tidak jadi. Bahkan bukan kekeluargaan yang ia rasakan di sana. Ia justru merasa sepi. Pastor projo yang membantunya kadang-kadang pulang ke rumah keluarganya, makan dan tidur di sana. “Kadang-kadang saya sendiri di kamar makan pada saat makan malam,” kata Pastor yang ditahbiskan imam pada 25 Desember 1980 ini.

Uskup Paganelli pun mengakhiri sharing-nya dengan mengajak para frater untuk jangan takut mengubah program hidup. Kiranya ini berlaku bagi semua umat Kristiani. Kita dipanggil untuk melayani Tuhan lewat sesama. Kadang-kadang kita tidak tahu bahkan tidak siap kapan tugas itu datang. Jadi, kita siap-siap saja untuk membantu jika ada yang membutuhkan kita. Jangan takut membatalkan rencana Anda untuk bepergian jauh jika ada orang yang meminta bantuan Anda berupa materi secukupnya. Ubahlah rencana Anda dan bantulah orang itu terlebih dahulu.

Fr. Gordi SX dari Parma, Italia.




Pandanglah Salib Itu Barang Sejenak Saja
 
tiga putra Conforti di depan salib yang jadi inspirasinya



Saya ingin berbagi pengalaman dengan para pembaca sekalian. Pengalaman yang mungkin dangkal dan sepele tetapi bisa menjadi dalam dan mendasar. Bermula dari saling pandang menjadi pandangan yang mendalam. Rupanya ‘memandang’ yang sepele itu bisa menjadi dasar iman kita.

Selama bulan Juli yang lalu (1-31), saya mengikuti retret di kota Bologna. Retret ini dipandu oleh tim yang terdiri dari 3 pastor Jesuit, 2 suster,  dan 2 awam. Jumlah peserta 35 orang. Ada 1 pastor projo, 2 suster, para frater dari beberapa kongregasi dan dari beberapa keuskupan, dan beberapa awam. Setiap peserta mempunyai pembimbing rohani dan membuat pertemuan atau qolloquium pribadi setiap hari sekitar 30-45 menit bahkan kadang 1 jam. Selain itu, ada 3 kali pertemuan bersama (Pukul 12.00, 15.00 dan 20.45). 

Satu dari sekian hal yang menarik perhatian saya adalah cara berdoa. Setiap hari kami mempunyai 4 waktu doa secara pribadi. Merefleksikan salah satu teks dari Kitab Suci atau dari bahan spiritual lainnya. Durasi doa tidak ditentukan. Ada yang memilih 30 menit, 45 atau bahkan 1 jam. Ada yang bermula dari 30 menit, lalu 45, lalu 1 jam. Ada pula yang tetap saja 45 menit atau 1 jam.

Untuk mengisi waktu ini, ada langkah-langkah yang dianjurkan. Pelaksanaannya tentu bergantung kepada peserta. Paling tidak, langkah yang diberikan oleh pembimbing menjadi panduan awal yang berguna. Langkah-langkah ini dikembangkan dari hari ke hari sesuai tema retret setiap minggu, tetapi langkah dasarnya tetap sama.

Satu dari sekian langkah itu adalah mengimajinasikan Yesus yang sedang memandang kita dengan tatapan cinta. Yesus mencintai kita dan Ia memandang kita ciptaan-Nya, dengan cinta yang tak terbatas. Ini ide di baliknya. Langkah ini membantu peserta untuk menyadari bahwa dia dicintai. Yesus berada di sampingnya dan hadir dalam doanya dengan tatapan cinta.

Langkah ini mungkin sulit pada awalnya. Bagaimana mungkin mengimajinasikan Yesus yang sedang memandang kita dengan tatapan cinta? Tidak apa-apa kalau sulit. Malah, lebih baik merasakan sulitnya dulu, baru menikmati betapa indahnya tatapan cinta itu.

Saya terbantu dengan pengalaman Santo Conforti, pendiri Serikat Xaverian. Conforti memandang Yesus di salib. Conforti tahu, ia sendiri benar-benar sedang memandang Yesus. Ia sadar akan pengalamannya ini. Ia juga tahu dan sadar bahwa Yesus sedang memandangnya. Mereka saling pandang. Dari saling pandang lahirlah relasi.

Mengikuti Conforti, saya juga memandang salib untuk mengimajinasikan tatapan cinta Yesus itu. Di kapel rumah retret ada salib yang disoroti cahaya putih. Cahaya itu bulat dan mengenai bagian kepala dan badan Yesus. Bagian itu menjadi lain dari yang lainnya. Itu sebabnya kami merasa mudah dan terbantu memusatkan perhatian ke situ.

Suatu ketika, tempat berdoa saya di kapel telah diambil-alih oleh peserta lain. Kami memang bebas memilih tempat doa. Entah di kapel, kamar, halaman, taman, kapel kecil dan sebagainya. Saya memilih sisi kanan dari kapel itu. Kebetulan ada karpet empuk. Nyaman untuk bersilah di situ sambil memandang Yesus yang menatap saya dengan tatapan cinta. Ketika tempat itu diambil alih, saya kembali ke kamar saya.

Saya berdoa di kamar. Saya menurunkan salib dan meletakkannya di atas meja. Tepat di depan mata saya. Saya menyorotkan lampu meja ke arahnya. Lalu, saya memandang salib itu. Saya membayangkan Yesus yang memandang saya dengan tatapan cinta.

Dari hari ke hari tatapan itulah yang saya pandang. Lama-lama, saya pun merasakan relasi yang mendalam dengan Yesus. Yesus yang menatap itu bukan saja dalam bayangan-imajinasi tetapi betul-betul hadir bersama saya dalam doa itu. Maka, di akhir doa, saya selalu mengatakan unek-unek saya pada Yesus. Saya bicara lepas-bebas tanpa takut, malu, dan cemas. Saya merasa Yesus yang menatap dengan cinta itu menjadi sahabat dan teman akrab saya. Bermula dari saling tatap jadi saling dekat dan lebih jauh lagi jadi teman curhat.

Saya kira ini hal sepele. Bisa diinterogasi ah bagaimana mungkin itu terjadi. Saya yang mengalaminya yakin sekali bahwa Yesus itu hadir dan menatap saya dengan tatapan cintanya. Bukan saya lagi yang memandang tetapi Dia yang memandang saya. Iman saya akan Yesus makin kuat dengan tatapan ini. Relasi saya dengan-Nya juga makin erat.

Saya mengajak para pembaca sekalian untuk meluangkan waktu memandang sejenak salib Yesus atau juga patung Bunda Maria yang ada di sekitar Anda. Ketika Anda masuk gereja, cari di mana letak salib, tataplah lama-lama di situ setelah Anda menghormatinya. Atau ketika Anda mampir ke gua Maria, tataplah sang Bunda Maria lama-lama. Tatap dalam hening, sambil merasakan kehadirannya. Kelak, kalau Anda meyakininya, dan terus-terus memandangnya, sebenarnya Anda tidak sedang menatap Yesus tetapi Yesus-lah yang sedang menatap Anda. Anda tidak sedang memandang tetapi Anda sedang dipandangi oleh Yesus. Kiranya bisa terbantu juga jika Anda membiarkan diri Anda ditatap oleh tatapan cinta itu. Demikian dengan tatapan keibuan Bunda Maria. Selamat mencoba.

Terima kasih dan salam dari Bologna dan Parma, Italy.

Fr. Gordi, SX



*Dimuat di buletin XAVERIAN  Jakarta

USKUP NATALE PAGANELLI MENAHBISKAN 4 DIAKON XAVERIAN DI PARMA



Tahbisan diakon kali ini (Minggu, 6 Desember 2015) cukup unik.  Keunikan pertama adalah para diakon berasal dari 3 benua (Afrika, Amerika Latin dan Asia). Keunikan kedua adalah penahbis datang dari Sierra Leone-Afrika. Penahbis adalah Monsinyur Natale Paganelli SX, administrator di Keuskupan Makeni, Sierra Leone. Uskup ini ditahbiskan pada bulan Oktober yang lalu. Pentahbisan para diakon ini adalah kali pertama bagia uskup yang pernah menjadi provinsial di Meksiko dan Sierra Leone ini.

Keunikan yang lain yang menjadi kebiasaan setiap tahun adalah banyaknya umat yang datang. Dari daerah Selatan seperti Salerno, dari Tengah seperti Ancona, dan juga dari Utara seperti Parma, Udine, Desio-Milan, Genova. Bahkan kali ini umat dari kota Parma hampir mendominasi. Boleh dibilang jarang terjadi. Umat yang datang memang berasal dari paroki-paroki tempat para diakon merasul. Itulah sebabnya jumlahnya kali ini meningkat sampai-sampai tidak bisa menampungnya di  Santuario Conforti. Kursi-kursi diduduki semua. Beruntunglah masih ada dan jumlahnya banyak yang memilih untuk berdiri. Kru fotografer berdiri karena sering bergerak, juga anak muda dan keluarga yang ingin menyaksikan dari dekat jalannya penahbisan.

Uskup Natale menggunakan kesempatan emas ini untuk beranimasi, memperkenalkan kepada umat, siapa sebenarnya diakon itu. Dia mendahului homilinya dengan menyinggung figur Yohanes Pembaptis. Yohanes—kata uskup—merenungkan Sabda Allah di padang gurun. Lalu, dia mewartakan-Nya ke hadapan umum. Pertama-tama merenungkan-Nya lalu mewartakan-Nya. Hal kedua yang disinggung oleh bapak uskup adalah figur diakon itu sendiri. Dengan nada lembut, dia mengatakan bahwa daikon adalah orang yang melayani dengan rendah hati dan dengan kesederhanaan. Pelayanan ini menjadi lengkap jika disertai dengan sikap berbelas kasih kepada sesama sesuai tema aktual saat ini dalam tahun yubilium yang dicanangkan Paus Fransiskus. Berbelas kasih mesti mulai dari diri sendiri. Tidak bisa berbelas kasih jika kita tidak mengalaminya pertama-tama. Kita juga—sambung bapak uskup—tidak bisa berbelas kasih jika menutup diri kepada belas kasih Allah bagi kita.

Untuk menyapa kaum muda yang hadir, Uskup Paganelli mengajak mereka untuk benar-benar menentukan dengan baik pilihan hidup mereka. Masa muda adalah masa untuk memilih. Pilihan itu yang nantinya menentukan masa depan. Paganelli menutup homilinya dengan lelucon yakni dengan mengajak kaum muda untuk datang ke Sierra Leone sebab tidak satu pun dari para diakon memilih untuk bermisi di negara tersebut.

Warna unik lainnya dari perayaan ekaristi kali ini adalah sumbangan paduan suara dari kelompok kor di kota Parma bersama para frater Xaverian. Kelompok inilah yang menyemarakkan perayaan ini dengan lagu-lagu dari berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia. Juga tarian yang dibawakan oleh kaum muda dari kota Parma. Sumbangan seperti ini kiranya memperkaya kekhasan keluarga kita sebagai keluarga internasional.

Setelah misa dan foto-foto, para undagan diajak ke kamar makan rumah induk. Di sana ada makan malam bersama dan rekreasi sejenak berupa permainan, video kumpulan foto para diakon, persembahan lagu dari beberapa komunitas dari luar kota Parma. Salah satu kelompok yang tampil dari kota Parma adalah kelompok Filipina dari paroki tempat Diakon Hotman merasul. Kelompok ini luar biasa. Mereka mempersembahkan sesuatu yang berharga bagi Diakon Hotman. Bagi mereka, Diakon Hotman adalah bagian dari keluarga mereka. Tak heran jika saat makan malam, mereka membawa kue tar (torta) lalu menikmatinya bersama dan menghias muka Diakon dengan kue tersebut. Ini bukan mainan tetapi permainan sederhana sebagai bentuk kasih sayang mereka kepada Diakon Hotman. Setelahnya, mereka juga menyanyikan beberapa lagu dalam bahasa Inggris dan Tagalog. Lagu-lagu ini kiranya mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada Diakon Hotman. Apalagi setelah itu, Diakon Hotman mengumumkan bahwa tak lama lagi dia akan kembali ke Indonesia untuk menjalani masa diakonatnya di Indonesia. Kami sedihhhhh Bang Hotman.

Keunikan yang tak kalah seru untuk diingat adalah kehadiran beberapa keluarga Indonesia. Ada Pastor Marini, Pastor Marsel, Suster Ana dan Suster Ronita dari susteran ALI di Milan, juga Mbak Ina dari Parma. Mbak Ina adalah tokoh di balik tersedianya masakan Indonesia saat makan malam. Ada nasi, kerupuk, sayuran khas Indonesia, daging ayam, dan sebagainya. Pokoknya uenakkkk dehhh. Selain kami, kedua daikon juga turut ambil bagian saat persiapan pada siang dan sore hari. Bahkan Pastor Marsel yang hobi masak (juga makan) turut hadir, kedua suster, Fr Gordi dan Berto. Pekerjaan ini berhasil atas kerja sama kami semua dan terutama Mbak Ina dan Fr Berto yang menyiapkan bumbu-bumbu dan alat masak lainnya.

Demikian laporan tentang acara tahbisan yang unik ini dari kota Parma.


Medio Desember 2015
Fr Gordi SX

FOTO-FOTO TAHBISAN DIAKON HOTMAN DAN PANDRI, KLIK DI LINK INI.

KEBESARAN SANTO FRANSISKUS XAVERIUS DAN MISI DEWASA INI



Santo Fransiskus Xaverius bagi Xaverian adalah tokoh penting. Dan, kiranya juga dunia dan Gereja Katolik. Serikat Xaverian menjadikan Xaverius sebagai pelindungnya. Conforti kiranya sudah memikirkan hal ini setelah melihat hidup misionaris Jesuit ini. Bagi Gereja Katolik, Santo Fransiskus adalah pelindung misi.

Tanggal 3 Desember yang lalu, para Xaverian di seluruh dunia mengingatnya dalam doa. Di Parma, Italia, kami merayakannya secara sederhana tetapi dengan semangat misi. Semangat misi yang kami hadirkan kembali dalam beberapa rangkaian kegiatan. Misi Fransiskus memang besar dan kami sebagai pengikut karyanya terus belajar darinya.

Diawali dengan rekoleksi bersama pada 2 Desember (sore hari), dipimpin oleh Pastor Mario Mulla, SX dari Roma. Para Xaverian di beberapa komunitas di bagian Utara Italia hadir, juga beberapa sahabat Xaverian di kota Parma. Para sahabat ini tergabung dalam kelompok yang namanya GAMS, gruppo amici dei missionari saveriani, kelompok para sahabat dari Serikat Xaverian.

Pastor Mario mengajak para Xaverian untuk merenungkan kembali misi Xaverian saat ini dengan berkaca pada pengalaman Santo Fransiskus. Fransiskus menerima misi khusus dari Allah yakni membawa Yesus kepada mereka yang belum mengenal-Nya. Bagi kita Xaverian—lanjut Pastor Mario—karya Fransiskus ini menjadi contoh dalam bermisi. Apalagi, kita berkarya di daerah yang dilaluinya khususnya India (Bangladesh), Indonesia (Kepulauan Maluku) dan Jepang.

Setelah sesi pertama, peserta rekoleksi mempunyai waktu untuk berefleksi secara pribadi. Waktu ini digunakan untuk berdoa secara pibadi dan mendalami tema yang ditawarkan. Sesi ‘pribadi’ini dilanjutkan dengan doa bersama (vesper) di santuario Conforti. Pastor Gigi Signori, SX wakil rektor rumah induk memimpin doa ini.

Kegiatan bersama hari pertama ini diakhiri dengan rekreasi bersama. Para pastor dan frater dari Komunitas Teologi turut berpartisipasi. Ada mamiri (makanan dan minuman ringan) yang disiapkan oleh Pastor Alberto Lanaro, SX ekonom rumah induk. Ada juga iringan musik dari grup musik yang terdiri atas para frater, Pastor Angel (dari Spanyol), Pastor Alfredo Turco (Direktur Museum Cina), dan Pastor Gigi Signori. Gitar dan piano dimainkan sebagai iringan. Lagu-lagu dari berbagai bahasa digemakan: Italia, Spanyol, dan Inggris. Yang tak kalah menarik juga di acara ini adalah video-wawancara dari keempat calon diakon (Hotman, Pandri, Ivanildo dan Tresor). Mereka diwawancara beberapa hari sebelumnya lalu seksi foto-video dari para frater meraciknya menjadi video menarik berdurasi 8 menit.

Pesta Santo Pelindung ini tidak berhenti di sini. Pada hari kedua, hari puncaknya, Kamis 3 Desember, ada Perayaan Ekaristi Kudus. Uskup Parma Mgr. Enrico Solmi memimpin perayaan ini. Hadir para pastor dari Keuskupan Parma dan juga sekelompok peziarah dari Keuskupan Ferrara, dekat kota Ravenna, Italia. Kelompok ini datang juga tahun lalu bersama uskup mereka Mgr. Andrea Turazzi. Uskup Turazzi adalah saudara kandung dari Pastor Silvio Turazzi SX. Perayaan ini menjadi momen indah untuk berbagi pengalaman misi bersama para pastor paroki di kota Parma dan juga dengan umat yang hadir.

Setelah misa, acara dilanjutkan dengan makan siang di kamar makan rumah induk. Para peziarah dan para pastor serta Bapak Uskup menjadi tamu undagan istimewa. Sayangnya Bapak Uskup tidak bisa hadir karena ada kegiatan lain di keuskupan. Di sini juga acara tidak kalah seru dengan kemarin malam. Para frater teologan bersama para formator (Pastor Fabrizio dan Alfio Coni, plus Pastor Renzo Larcher, mantan rektor rumah induk) mempersembahkan beberapa lagu, di antaranya lagu yang cukup tenar dulu dan sekarang, siamo-siamo noi, siamo saveriani (Kami adalah para Xaverian). Lagu ini masih tenar sekarang, apalagi kaum muda dari kota Salerno hampir menyanyikannya setiap tahun saat acara Tahbisan Diakon di Parma.

Kehadiran para undangan ini kiranya menjadi rahmat bagi kita para Xaverian. Mereka senang mendengar sharing kita dari tanah misi. Ini menunjukkan bahwa mimpi Conforti dan Fransiskus masih terus dilanjutkan. Misi itu sama dari dulu hingga dewasa ini yakni memperkenalkan Kristus kepada dunia. Hanya saja bentuknya yang berbeda. Misi itu seperti sms. Pesannya sama tetapi cara pengirimannya beda. Dulu mungkin melalui surat, sekarang melalui surat elektronik atau dengan pesan singkat di telepon gengam.

 

 

 


Selamat Pesta Fransikus Xaverius, pelindung misi dan Serikat Xaverian.

Parma, medio Desember 2015

Fr Gordi SX
Diberdayakan oleh Blogger.