Kepergian
Pastor Marini mengangetkan banyak orang. Saya saja kaget bukan main. Rupanya
bukan hanya saya saja. Perasaan yang sama dialami banyak orang. Rasa kaget itu
bermula dari berita yang beredar di Italia, di antara para Xaverian lalu
menyebar ke seluruh dunia. Terutama di antara umat, sahabat, dan kenalan para
Xaverian di seluruh dunia.
Saya
sendiri tak menyangka jika yang saya dengar dulu itu benar-benar terjadi saat
ini. Tahun lalu saat Pastor Marini harus tinggal untuk berobat di Parma, saya
sudah mendengar berita tentang kesehatannya. Bermula dari sebatas isu-isu. Saya
juga tidak mau bertanya pada Pastor Marini. Toh, saya juga tidak mau mendengar
lagi isu-isu seperti itu. Bagi saya, Pastor Marini adalah seorang Xaverian yang
bertugas di Indonesia. Dia adalah milik provinsi Indonesia untuk saat ini.
Tenaganya masih dibutuhkan di Indonesia. Entah di rumah pendidikan atau pun di
tengah umat yang dilayani oleh para Xaverian di Indonesia.
Isu-isu
makin menjadi ketika Pastor Marini harus tinggal lebih lama di Parma. Saya
mencoba bertanya dan terus bertanya pada dua orang konfrater Xaverian yang
bekerja di Lantai 4. Mereka inilah yang mendampingi para Xaverian yang tua dan
sakit. Dua orang yang bukan dokter tetapi punya peran masing-masing. Keduanya
punya pengalaman yang cukup dalam hal mengurus orang sakit. Di sini juga peran mereka
amat penting. Satunya selalu berhubungan dengan pihak rumah sakit. Satunya lagi
bertugas membantu dokter jika ada kunjungan dokter setiap hari Selasa dan
Jumat. Singkatnya, dari mereka berdua, informasi seputar lantai 4 hampir kita
ketahui 100 %. Kita sebut hampir karena yang tahu pasti adalah Dokter Gildo
yang menjadi penanggung jawab dalam hal kesehatan di lantai 4. Biasanya yang
diketahui oleh kedua konfrater ini diketahui juga oleh Dokter Gildo. Sedangkan
yang diketahui oleh Dokter Gildo tidak semuanya diketahui oleh kedua konfrater
ini. Kita bandingkan begitu saja.
Saya
bertanya pada mereka dan mereka menjawab dengan jawaban yang hampir sama.
Jawaban mereka memberi indikasi bahwa keadaan Pastor Marini memang tidak bagus.
Oleh sebab itu, dia harus tinggal di Parma untuk dirawat. Saya tidak puas
dengan jawaban ini sehingga saya terus bertanya. Saya beruntung, saya
mendapatkan jawaban yang pasti dan dengan penjelasan yang runut. Intinya saya
tahu gejala dan apa yang harus dilakukan dalam perawatan tetapi jenis
penyakitnya tidak saya tahu dengan jelas. Maklum, nama dengan istilah
kedokteran kadang sulit dihafal.
Dari
sini saya menafsirkan bahwa Pastor Marini memang betul-betul harus tinggal lebih
lama di Parma. Dalam perkembangan selanjutnya saya terus bertanya pada mereka
berdua. Mereka memberi jawaban tentang perkembangannya. Saya yakin betul yang mereka
katakan meski pada awalnya saya sulit menerima keadaan itu. Pelan-pelan
saya menerima seiring dengan kondisi kesehatan Pastor Marini.
Dalam
keadaan seperti ini, saya terus berharap ada perubahan. Itulah sebabnya,
jawaban yang mengagetkan tadi saya pendam. Setiap kali ada pertanyaan dari
Indonesia, saya selalu menjawab, kita
tetap berdoa untuk Pastor Marini agar kuat dan cepat sembuh dalam masa
perawatan ini. Jawaban ini saya berikan dengan harapan Pastor Marini bisa
sembuh. Meski, dalam hati saya tahu ini sulit. Namanya juga kita berharap dan
Tuhan yang akan menetukan keputusan akhir.
Rupanya
pelan-pelan jawaban itu terungkap. Beberapa bulan lalu, Dokter Gildo
menyampaikan kepada para konfrater di Lantai 4 tentang kondisi Pastor Marini.
Pastor Marini juga mengamini semua yang dikatakn Dokter Gildo. Dokter Gildo
mengatakan bahwa, dia sudah berusaha
dengan berbagai jenis obat dan dengan berbagai jenis cara tetapi belum ada
perubahan yang berarti. Dokter melanjutkan bahwa dia terus berusaha dengan
berbagai cara baru termasuk mengganti beberapa jenis obat. Selebihnya, kata
Gildo, kita berharap pada Tuhan. Demikian kira-kira inti kata-kata dari
Dokter Gildo. Pastor Marini saat itu juga—di hadapan konfrater di lantai
4—memohon maaf karena tidak bisa hadir dalam setiap kegiatan doa. Marini
beralasan, tidak ada gunanya dia datang
berdoa karena tidak bisa berkosentrasi. Bahkan kadang tidak bisa mendengar
dengan baik. Jadi, katanya, lebih baik dia berdoa di kamar saja.
Pemberitahuan
dari Dokter Gildo ini makin jelas tentang kondisi Pastor Marini. Saya rasa
pemberitahuan ini penting dan tentu saja menjadi penentu. Sebab, pasti Dokter
Gildo tahu dengan baik kondisi Pastor Marini. Saya meneruskan pesan ini kepada
para konfrater Xaverian di Indonesia dan di luar negeri. Tentu saja pesan
ini—sekali lagi—mengangetkan bahkan mungkin seperti saya, SULIT DITERIMA.
Demikianlah juga yang dialami oleh para konfrater saya.
Reaksi
pun muncul. Ada yang membalas email saya tersebut dengan ucapan terima kasih
dan berjanji untuk ikut mendoakan. Bahkan di beberapa tempat mereka mendoakan
secara khusus dalam misa. Reaksi lain yang berbeda juga muncul. Ada yang
seperti tidak bisa menerima keadaan ini. Saya paham. Pertanyaan pun ditujukan
pada saya. Intinya mau bertanya apakah benar yang saya katakan itu. Atau
jangan-jangan saya mengarang cerita, menciptakan berita yang tidak sesuai
kenyataan. Bahkan sampai bertanya, apakah
tidak ada lagi obat yang pas di lantai 4 yang bisa menyembuhkan Pastor Marini?
Saya
mengerti dengan reaksi seperti ini. Saya anggap ini seperti yang saya alami
ketika saya mendengar untuk pertama kalinya tentang kondisi Pastor Marini.
Saya
tidak tahu bagaimana reaksi mereka ketika yang saya sampaikan itu menjadi
nyata. Boleh jadi reaksi mereka juga kaget seperti yang saya alami. Memang,
berita tentang kepergian Pastor Marini ini betul-betul mengangetkan banyak
orang. Perasaan kaget seperti ini menjadi hal biasa. Apalagi untuk mereka yang
sudah terbiasa melihat Pastor Marini dengan kesederhanaannya. Jadi, bagaimana
mungkin Pastor Marini yang menjadi bagian dari keseharian kita, yang dekat
dengan kita, kini menjadi bagian yang lain dari kehidupan kita? (bersambung)
Fr
Gordi SX dari Parma
Berikutnya:
PASTOR
MARINI BERBARING DI BAWAH SALIB CONFORTI

Posting Komentar