Halloween party ideas 2015



Kepergian Pastor Marini mengangetkan banyak orang. Saya saja kaget bukan main. Rupanya bukan hanya saya saja. Perasaan yang sama dialami banyak orang. Rasa kaget itu bermula dari berita yang beredar di Italia, di antara para Xaverian lalu menyebar ke seluruh dunia. Terutama di antara umat, sahabat, dan kenalan para Xaverian di seluruh dunia.

Saya sendiri tak menyangka jika yang saya dengar dulu itu benar-benar terjadi saat ini. Tahun lalu saat Pastor Marini harus tinggal untuk berobat di Parma, saya sudah mendengar berita tentang kesehatannya. Bermula dari sebatas isu-isu. Saya juga tidak mau bertanya pada Pastor Marini. Toh, saya juga tidak mau mendengar lagi isu-isu seperti itu. Bagi saya, Pastor Marini adalah seorang Xaverian yang bertugas di Indonesia. Dia adalah milik provinsi Indonesia untuk saat ini. Tenaganya masih dibutuhkan di Indonesia. Entah di rumah pendidikan atau pun di tengah umat yang dilayani oleh para Xaverian di Indonesia.

Isu-isu makin menjadi ketika Pastor Marini harus tinggal lebih lama di Parma. Saya mencoba bertanya dan terus bertanya pada dua orang konfrater Xaverian yang bekerja di Lantai 4. Mereka inilah yang mendampingi para Xaverian yang tua dan sakit. Dua orang yang bukan dokter tetapi punya peran masing-masing. Keduanya punya pengalaman yang cukup dalam hal mengurus orang sakit. Di sini juga peran mereka amat penting. Satunya selalu berhubungan dengan pihak rumah sakit. Satunya lagi bertugas membantu dokter jika ada kunjungan dokter setiap hari Selasa dan Jumat. Singkatnya, dari mereka berdua, informasi seputar lantai 4 hampir kita ketahui 100 %. Kita sebut hampir karena yang tahu pasti adalah Dokter Gildo yang menjadi penanggung jawab dalam hal kesehatan di lantai 4. Biasanya yang diketahui oleh kedua konfrater ini diketahui juga oleh Dokter Gildo. Sedangkan yang diketahui oleh Dokter Gildo tidak semuanya diketahui oleh kedua konfrater ini. Kita bandingkan begitu saja.

Saya bertanya pada mereka dan mereka menjawab dengan jawaban yang hampir sama. Jawaban mereka memberi indikasi bahwa keadaan Pastor Marini memang tidak bagus. Oleh sebab itu, dia harus tinggal di Parma untuk dirawat. Saya tidak puas dengan jawaban ini sehingga saya terus bertanya. Saya beruntung, saya mendapatkan jawaban yang pasti dan dengan penjelasan yang runut. Intinya saya tahu gejala dan apa yang harus dilakukan dalam perawatan tetapi jenis penyakitnya tidak saya tahu dengan jelas. Maklum, nama dengan istilah kedokteran kadang sulit dihafal.

Dari sini saya menafsirkan bahwa Pastor Marini memang betul-betul harus tinggal lebih lama di Parma. Dalam perkembangan selanjutnya saya terus bertanya pada mereka berdua. Mereka memberi jawaban tentang perkembangannya. Saya yakin betul yang mereka katakan meski pada awalnya saya sulit menerima keadaan itu. Pelan-pelan saya menerima seiring dengan kondisi kesehatan Pastor Marini.

Dalam keadaan seperti ini, saya terus berharap ada perubahan. Itulah sebabnya, jawaban yang mengagetkan tadi saya pendam. Setiap kali ada pertanyaan dari Indonesia, saya selalu menjawab, kita tetap berdoa untuk Pastor Marini agar kuat dan cepat sembuh dalam masa perawatan ini. Jawaban ini saya berikan dengan harapan Pastor Marini bisa sembuh. Meski, dalam hati saya tahu ini sulit. Namanya juga kita berharap dan Tuhan yang akan menetukan keputusan akhir.

Rupanya pelan-pelan jawaban itu terungkap. Beberapa bulan lalu, Dokter Gildo menyampaikan kepada para konfrater di Lantai 4 tentang kondisi Pastor Marini. Pastor Marini juga mengamini semua yang dikatakn Dokter Gildo. Dokter Gildo mengatakan bahwa, dia sudah berusaha dengan berbagai jenis obat dan dengan berbagai jenis cara tetapi belum ada perubahan yang berarti. Dokter melanjutkan bahwa dia terus berusaha dengan berbagai cara baru termasuk mengganti beberapa jenis obat. Selebihnya, kata Gildo, kita berharap pada Tuhan. Demikian kira-kira inti kata-kata dari Dokter Gildo. Pastor Marini saat itu juga—di hadapan konfrater di lantai 4—memohon maaf karena tidak bisa hadir dalam setiap kegiatan doa. Marini beralasan, tidak ada gunanya dia datang berdoa karena tidak bisa berkosentrasi. Bahkan kadang tidak bisa mendengar dengan baik. Jadi, katanya, lebih baik dia berdoa di kamar saja.

Pemberitahuan dari Dokter Gildo ini makin jelas tentang kondisi Pastor Marini. Saya rasa pemberitahuan ini penting dan tentu saja menjadi penentu. Sebab, pasti Dokter Gildo tahu dengan baik kondisi Pastor Marini. Saya meneruskan pesan ini kepada para konfrater Xaverian di Indonesia dan di luar negeri. Tentu saja pesan ini—sekali lagi—mengangetkan bahkan mungkin seperti saya, SULIT DITERIMA. Demikianlah juga yang dialami oleh para konfrater saya.

Reaksi pun muncul. Ada yang membalas email saya tersebut dengan ucapan terima kasih dan berjanji untuk ikut mendoakan. Bahkan di beberapa tempat mereka mendoakan secara khusus dalam misa. Reaksi lain yang berbeda juga muncul. Ada yang seperti tidak bisa menerima keadaan ini. Saya paham. Pertanyaan pun ditujukan pada saya. Intinya mau bertanya apakah benar yang saya katakan itu. Atau jangan-jangan saya mengarang cerita, menciptakan berita yang tidak sesuai kenyataan. Bahkan sampai bertanya, apakah tidak ada lagi obat yang pas di lantai 4 yang bisa menyembuhkan Pastor Marini?

Saya mengerti dengan reaksi seperti ini. Saya anggap ini seperti yang saya alami ketika saya mendengar untuk pertama kalinya tentang kondisi Pastor Marini.

Saya tidak tahu bagaimana reaksi mereka ketika yang saya sampaikan itu menjadi nyata. Boleh jadi reaksi mereka juga kaget seperti yang saya alami. Memang, berita tentang kepergian Pastor Marini ini betul-betul mengangetkan banyak orang. Perasaan kaget seperti ini menjadi hal biasa. Apalagi untuk mereka yang sudah terbiasa melihat Pastor Marini dengan kesederhanaannya. Jadi, bagaimana mungkin Pastor Marini yang menjadi bagian dari keseharian kita, yang dekat dengan kita, kini menjadi bagian yang lain dari kehidupan kita? (bersambung)


Fr Gordi SX dari Parma


Berikutnya:
PASTOR MARINI BERBARING DI BAWAH SALIB CONFORTI




Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.