Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label KENANGAN. Tampilkan semua postingan

ADA YANG PERGI DAN PERGI LAGI
 
P. Otello Casali SX (1934-2017)
Ada yang pergi dan pergi lagi untuk selamanya. Begitu kira-kira situasi Xaverian di Indonesia saat ini. Pastor Otello Casali SX meninggalkan kita semua pada Rabu, 10 Mei 2017, sekitar jam 10.55 WIB. Dia meninggal di Rumah Sakit Yos Sudarso kota Padang, Sumatera Barat.

Pastor Otello bermisi di Paroki St Paulus Pekanbaru di masa akhir hidupnya. Itulah sebabnya, banyak umat paroki merasa kehilangan. Seperti umat ini, banyak juga kenalan lainnya yang ikut kehilangan. Mulai dari keluarga di Italia sampai kenalan di banyak daerah di Indonesia. Halaman facebook Xaverian Indonesia menerima banyak ucapan turut berduka dari para sahabat Pastor Otello SX yang tersebar di banyak tempat.

Di Indonesia, Pastor Otello bekerja di beberapa komunitas seperti Pekanbaru, Bagansiapi-Api, Dumai, Pekanbaru e Padang Baru. Pernah juga bekerja sebagai Prokurator Xaverian di Jakarta. Setelahnya, masih melayani di beberapa komunitas seperti Toasebio-Jakarta, Bukit Tinggi dan terakhir kali di Pekanbaru.

Beberapa mantan murid dan konfrater Pastor Otello SX di Italia berkomentar bahwa pastor ini punya semangat yang kuat. Semangat ini kiranya tampak dalam berbagai pelayanan yang ia buat. Sebelum ke Indonesia, semangat pelayanan ini yang ditawarkan Pastor Otello di beberapa komunitas di Italia seperti di Pulau Sardegna-Italia: Komunitas Macomer dan Cagliari.

BIOGRAFI
PASTOR OTELLO SX (82 tahun)

Lahir di Castel Vecchio, Prignano Secchia, kota Modena-Italia pada 20 Desember 1934.

Masuk Xaverian di kota S. Pietro in Vincoli-Ravenna pada 1 September 1954. Saat itu, Pastor Otello SX datang dari Seminari Keuskupan Reggio Emilia. Di kota ini, Pastor Otello mengikrarkan kaul pertama setelah menjalani masa Novisiat pada 12 September 1955.

Tiga tahun kemudian, Pastor Otello SX menerima Rahmat Tahbisan di Parma, tepatnya pada 21 Desember 1958.

Setelahnya, Pastor Otello SX melayani komunitas Xaverian di Pulau Sardegna (Macomer dan Cagliari) selama 6 tahun, dari 1959 sampai 1965.

Dari Italia, Pastor Otello SX dikirim ke Indonesia. Beberapa tugas yang pernah ia layani di Indonesia:

Selama 1965-1983: Menjadi Pastor Rekan dan Pastor Paroki di komunitas Pekanbaru, Bagansiapi-Api, DUmai, Pekanbaru lagi, dan Padang Baru.

Pada 1983-1986, Pastor Otello SX diutus kembali ke Italia dan menjadi Rektor di Komunitas Xaverian di kota Salerno, Italia Selatan.

Setelah 3 tahun itu, dia kembali ke Indonesia: di Komunitas Pasaman dan Sumai (1988-1995), Toasebio-Jakarta (1997-2000), Padang Baru (2003-2006), Bukit Tinggi (2006-2012), Pekanbaru (2015-2017).

Di sela-sela tugas pastoral ini, Pastor Otello SX juga melayani komunitas Prokura di Jakarta yakni pada 1995-1997 dan 2000-2002.


Rest in peace
Riposi in pace
Beristirahatlah dalam dami

Selamat Jalan Pastor, doa kami menyertaimu.

Gordi SX






Salib itu tidak asing bagi para Xaverian. Salib itulah awal mula panggilan Santo Conforti, pendiri Xaverian. Salib itu oleh para Xaverian dibawa ke santuario ini dari gereja tempat ia berada sebelumnya.

Salib itu memang menjadi tanda kehidupan para Xaverian. Saat ini, di bawah salib itu juga banyak pengunjung santuario berdoa. Ada yang lewat sambil menatap lama. Ada yang cukup menganggukkan kepala saja. Ada juga yang memang berhenti sejenak sambil berdoa di bawahnya. Persis seperti yang Conforti buat saat masa kecilnya.

Sambil berdoa di situ, sebenarnya juga bisa sambil melihat riwayat para Xaverian. Di samping salib itu ada buku riwayat hidup para Xaverian yang meninggal. Dari hari ke hari. Riwayat hidup mereka memang dipadatkan menjadi sehalaman saja. Cukup untuk diingat dalam misa harian dari para Xaverian di seluruh dunia.

Pastor Marini SX juga akan dimasukkan dalam buku peringatan harian itu. Dan, sebelum ke sana, Pastor Marini memang disemayamkan di bawah salib itu. Petinya sudah ditutup rapat. Tidak bisa lagi melihat wajahnya. Saya beruntung pagi harinya sudah mengambil gambarnya saat dia dalam peti dan belum tertutup. Rupanya gambar-gambar itu tadi menjadi kenangan terakhir sebelum wajahnya tak bisa dilihat lagi.

Bukan hanya saya saja yang merasakan ini. Banyak kenalan dan pengunjung yang merasakan kesedihan karena tidak bisa melihat wajah Pastor Marini. Apa boleh buat. Semuanya sudah diatur. Pihak medis sudah memutuskan untuk menutup petinya.

Malam harinya, saat rosario bersama, Pastor Marini tetap di bawah salib itu. Rosario bersama ini dihadiri oleh para Xaverian di kota Parma, para suster Xaverian di kota Parma, dan umat beserta kenalan seperti kolega dosen dari Pastor Marini saat ia mengajar di Parma. Rosario ini menjadi tradisi yang kuat bagi umat Katolik Italia. Para Xaverian juga meneruskan tradisi yang baik ini dalam kehidupan Xaverian sampai saat ini.

Demikian malam ini. Pastor Gigi SX, wakil rektor rumah induk Xaverian di Parma memimpin doa rosario. Diawali dengan membaca riwayat singkat dari P Marini. Banyak yang terharu seperti juga sering terjadi dengan para Xaverian lain yang meninggal di seluruh dunia. Riwayat hidup mereka memang untuk diteladani.



Saya ingat kata-kata seorang kolega dosen dari Pastor Marini yang sekarang masih menetap di Parma. Katanya, Pastor Marini mempunyai cara unik dalam berdoa. Berbeda dari yang lain. Dan, kata-katanya selalu menunjukkan kekudusan yang khusus dari Pastor Marini. Saya ingat betul kata-kata ini. Pastor yang mengatakan ini tahu betul kebiasaan berdoa dari Pastor Marini.

Setelah rosario, banyak umat yang memberi salam pada Pastor Marini meski hanya dengan menyentuh petinya saja. Saya dan Fr Berto SX juga berbuat demikian. Hanya saja, kami juga menambahkan dengan memberi salam dalam bahasa Indonesia dan Italia untuk menyampaikan pesan-pesan dan kata-kata terakhir dari teman-teman di Indonesia.

Terima kasih Pastor Marini SX, teladanmu kami ingat dan kami bawa dalam hidup. Di bawah salib ini, panggilan Conforti lahir. Di bawah salib itu juga, engkau bersemayam sebelum berangkat menuju kebersamaan dengan para Xaverian lainnya di rumah Bapa termasuk bertemu dengan Conforti.

Fr Gordi SX dari Parma








SAMBUTAN DAN KESAKSIAN
P. Antonius Wahyudianto (Provinsial-Indonesia)
 
Pastor Marini SX bersama para Xaverian lainnya 
dalam assemblea 2 tahunan di Jakarta
           
Saat mendengar berita duka cita dari Parma tentang meninggalnya P. Francesco Marini, saya pribadi dan semua konfrater di Provinsi Indonesia tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Kami selama ini sebenarnya dalam doa-doa harian selalu berharap bahwa tangan Allah Bapa masih bisa memulihkan kesehatan P. Marini. Sehingga suatu hari nanti beliau akan kembali di Indonesia, sebagai tanah misi yang dicintainya. Namun, Bapa yang maha bijaksana itu berkehendak lain, karena Ia justru menginginkan dan memanggil P. Marini untuk kembali ke pangkuan Bapa di surga.

Kami di Indonesia sungguh merasa kehilangan sosok pribadi seorang Marini yang mempunyai pengetahuan tinggi, namun sangat rendah hati. Senyuman yang meneduhkan dan sentuhan karya-karya beliau baik di bidang pastoral dan formasi di Indonesia telah mengharumkan provinsi kami. Sejauh saya ketahui dari berbagai konfrater, ketika beliau untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di Indonesia dan berkarya di Paroki Aek Kanopan dan Aek Nabara, di bidang pastoral pandangan dan ide-ide beliau sangat inspiratif dan bersifat visioner. Sebagai salah satu contohnya, kalau tidak salah, beliaulah yang pertama kalinya menggagas “suatu komunitas campur antar pastor dan suster” di Aek Nabara, yang merupakan satu-satunya komunitas lintas kongregasi yang sangat diapresiasi hingga hari ini oleh Bapak Uskup Agung Medan, Mgr Anicetus Sinaga OFM Cap.

Menurut saya beliau merupakan “orang besar”, yang lebih senang mendengar daripada banyak berujar. Meski penuh kharisma, ia menampilkan diri sebagai orang biasa yang sangat bersahaja. Maka, tidak mengherankan bahwa setelah lima tahun berkarya di Indonesia (1976-1983), beliau kemudian dipercayakan sebagai Superior Regional di Indonesia. Tidak cukup hanya sebagai Provinsial di Indonesia, beliau pun akhirnya dipilih sebagai anggota Direksi Jenderal di Roma (1983-1989). Bahkan, terpilihnya P. Marini sebagai Superior Jenderal selama dua periode menunjukkan bahwa beliau adalah pribadi yang sungguh berkualitas tinggi dalam Konggregasi. Namun, beliau seperti biasa,  tetap rendah hati sekaligus murah hati. Beliau merupakan salah satu yang terbaik yang kita miliki dalam Konggregasi.

Kami bangga dan turut bergembira tatkala mantan Superior Jenderal, sebagai “orang besar” yang rendah hati itu, diutus kembali ke Provinsi Indonesia pada 2003. Sekali lagi, beliau menjalankan tugasnya dengan rendah hati, walau hanya sebagai rekan imam atau asisten pastor paroki, di Paroki St Matius Penginjil, Bintaro. Beliau pun tetap bersikap taat setia tatkla menerima perutusan baru lagi dalam bidang formasi di rumah pendidikan Skolastikat, Jakarta mulai akhir tahun 2009. Namun demikian, kami tidak menduga bahwa masa cuti P. Marini untuk pulang kampung ke Italia bulan Juli tahun lalu itu, menjadi saat berpulangnya beliau ke rumah Bapa untuk selama-lamanya.   

Bagi keluarga dan sanak saudara P. Marini di Italia dan di manapun berada, kami satukan rasa duka cita kami dengan saudara-saudari sekalian. Biarlah kita relakan P. Marini berada di rumah Bapa,rumah yang penuh damai dan sukacita abadi. Beliau telah menjadi pendoa yang abadi bagi kita semua di bumi ini.

P. Marini terkasih, kini senyum dan tawamu yang menawan itu tak akan pernah lagi kami lihat. Meski sebenarnya senyum itu masih kami butuhkan dan rindukan di bumi Indonesia ini. Namun, kami tidak cemburu, bila senyummu itu juga diperuntukkan bagi para malaikat dan para kudus di surga yang menyambutmu dengan penuh sukacita. Selamat jalan P. Marini menuju kerajaan surga yang juga kau damba!

*Versi Italia-nya dibacakan dalam misa requiem Pastor Marini di Santuario Conforti, Parma, Italia 

            

In Memoriam Padre Marini SX

SEMUA FOTO: Pasroki St Matius Bintaro, Jakarta dan Skolastikat Xaverian


Kekasih yang selalu setia menemani dan menunggu kita adalah kematian. Dia akan selalu hadir dalam diri kita meski pun kita tidak merasakan kehadirannya. Yah, kematian adalah sebuah antrian, antrian yang tidak teratur, kapan saja kita bisa menjadi yang pertama meskipun kita berbaris di urutan terakhir.

Inilah sepenggal kalimat sebagaimana yang diungkapkan oleh Sinta Ridwan sang novelis muda sebagaimana yang ia goreskan dalam novelnya yang berjudul, catatan si gadis lupus.

Kepergian Padre Marini merupakan suatu ziarah dari antrian panjang menuju kematian. Kematian yang tidak bisa disangkal. Kehidupan manusia di dunia ini hanyalah persinggahan saja. Beliau sudah melewatinya. Meski pun demikian, kepergian seseorang yang kita cintai selalu meninggalkan duka.

Pastor Ciroi SX bersama para sahabat dalam misa requiem di Skolastikat


Padre Marini merupakan sosok yang sangat kalem, ramah, bijaksana dan memiliki optimisme yang besar.  Beliau adalah tipe orang yang bisa merangkul siapa saja baik di kalangan Katolik maupun dengan teman-teman yang berasal dari agama lain. Beliau betul-betul misionaris tulen yang menghayati spiritualitas pendiri secara radikal dalam hal membangun semangat dialog. Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang memiliki semangat juang yang tinggi. Totalitasnya sebagai seorang misionaris tampak dari  penampilan kesehariaanya. Beliau  menanamkan nilai kesederhanaan, kerendahan hati, dan tidak mengharapkan lebih.

Beliau juga dikenal sebagi sosok pemimpin yang rendah hati yang tidak pernah menampilkan wajah kekuasaan. Di kalangan para frater, beliau dikenal sebagai perpustakaan berjalan dan kamus hidup. Wawasan yang luas membuat dia tahu banyak hal, sampai-sampai para frater kekuarangan pertanyaan. Penjelasan yang sistematis, terstruktur dan menggunakan bahasa yang sederhana membuat orang merasa puas dengan apa yang ia jelaskan.



Untuk mengenang kepergian beliau, umat Paroki St. Matius Penginjil Bintaro (tempat di mana beliau pernah berkarya) mengadakan misa requiem untuk mengiringi perjalanan sang bijak menuju rumah Bapa.  Perayaan ekaristi dilaksanakan hari Kamis, 25 Mei 2016. Misa diselenggarakan secara konselebasi, dengan selebran utama P. Gerris SX. Perayaan ekaristi dihadiri ratusan umat. Dalam homili, P. Daniel SX berbagi cerita, P. Marini adalah  seorang pemimpin yang rendah hati dan memiliki semangat yang tinggi. Banyak orang merasa nyaman ketika berada di dekatnya. Dia tidak pernah menunjukan wajah superioritas. Dia tipe orang yang bisa menerima dan merangkul siapa saja sebagai saudara.

Pastor Daniel SX di Paroki St Matius Bintaro


Pada hari Jumat, 27 Mei diadakan misa requem yang diselenggarakan di STF Driyarkara, di tempat di mana beliau pernah mengabdi. Beliau mengabdi di STF sejak 2004 hingga 2009. Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh P. Vitus Rubianto SX selaku wakil kepala satu. Misa diikuti hampir seluruh civita akademika STF Driyarkara beserta para dosen. Dalam homilinya P. Vitus Rubianto SX menegaskan, P. Marini adalah sosok bersahaja, rendah hati, dan selalu memiliki optimisme yang tinggi dalam hidupnya. Kerendahan hati dan kesederhanaan yang ia tampikan membuat ia dicintai banyak orang. Kita sungguh kehilangan sosok yang sangat bersahaja.

Pada sore harinya dirayakan misa di Skolastikat CPR 42. Dalam Perayaan ini turut hadir umat lingkungan St. Theresa, para penderma, sahabat Xaverian, mantan Xaverian, dan juga teman-teman dari agama lain.  Perayaan ekaristi dipersembahkan oleh P. Ciroi SX yang adalah sahabat karibnya sejak beliau masih frater. Pastor Ciroi memberikan kesaksian bahwa P. Marini adalah sosok yang berbeda dengan yang lain, dia memiliki  semangat kemiskinan yang tinggi dan totalitas dalam pelayaan. Bruder Wahsington SX yang kebetulan baru pulang  cuti dan hadir dalam perayaan ekaristi berkomentar, sangat sulit untuk menemukan kelemahan dalam diri P. Marini.



Dari semua kesaksian, ada tiga refren yang sering diulang berkaitan dengan karakter P. Marini  yaitu, renda hati, sederhana, dan bijaksana. Inilah kekayaan yang ditinggalkan P. Marini bagi kita yang masih berziarah di dunia ini.

“Selamat jalan Pastor, semoga bahagia bersama Bapa di surga doakan kami yang masih berziarah di dunia ini.”

Fr.  Ervino Hebry H.



Kepergian Pastor Marini mengangetkan banyak orang. Saya saja kaget bukan main. Rupanya bukan hanya saya saja. Perasaan yang sama dialami banyak orang. Rasa kaget itu bermula dari berita yang beredar di Italia, di antara para Xaverian lalu menyebar ke seluruh dunia. Terutama di antara umat, sahabat, dan kenalan para Xaverian di seluruh dunia.

Saya sendiri tak menyangka jika yang saya dengar dulu itu benar-benar terjadi saat ini. Tahun lalu saat Pastor Marini harus tinggal untuk berobat di Parma, saya sudah mendengar berita tentang kesehatannya. Bermula dari sebatas isu-isu. Saya juga tidak mau bertanya pada Pastor Marini. Toh, saya juga tidak mau mendengar lagi isu-isu seperti itu. Bagi saya, Pastor Marini adalah seorang Xaverian yang bertugas di Indonesia. Dia adalah milik provinsi Indonesia untuk saat ini. Tenaganya masih dibutuhkan di Indonesia. Entah di rumah pendidikan atau pun di tengah umat yang dilayani oleh para Xaverian di Indonesia.

Isu-isu makin menjadi ketika Pastor Marini harus tinggal lebih lama di Parma. Saya mencoba bertanya dan terus bertanya pada dua orang konfrater Xaverian yang bekerja di Lantai 4. Mereka inilah yang mendampingi para Xaverian yang tua dan sakit. Dua orang yang bukan dokter tetapi punya peran masing-masing. Keduanya punya pengalaman yang cukup dalam hal mengurus orang sakit. Di sini juga peran mereka amat penting. Satunya selalu berhubungan dengan pihak rumah sakit. Satunya lagi bertugas membantu dokter jika ada kunjungan dokter setiap hari Selasa dan Jumat. Singkatnya, dari mereka berdua, informasi seputar lantai 4 hampir kita ketahui 100 %. Kita sebut hampir karena yang tahu pasti adalah Dokter Gildo yang menjadi penanggung jawab dalam hal kesehatan di lantai 4. Biasanya yang diketahui oleh kedua konfrater ini diketahui juga oleh Dokter Gildo. Sedangkan yang diketahui oleh Dokter Gildo tidak semuanya diketahui oleh kedua konfrater ini. Kita bandingkan begitu saja.

Saya bertanya pada mereka dan mereka menjawab dengan jawaban yang hampir sama. Jawaban mereka memberi indikasi bahwa keadaan Pastor Marini memang tidak bagus. Oleh sebab itu, dia harus tinggal di Parma untuk dirawat. Saya tidak puas dengan jawaban ini sehingga saya terus bertanya. Saya beruntung, saya mendapatkan jawaban yang pasti dan dengan penjelasan yang runut. Intinya saya tahu gejala dan apa yang harus dilakukan dalam perawatan tetapi jenis penyakitnya tidak saya tahu dengan jelas. Maklum, nama dengan istilah kedokteran kadang sulit dihafal.

Dari sini saya menafsirkan bahwa Pastor Marini memang betul-betul harus tinggal lebih lama di Parma. Dalam perkembangan selanjutnya saya terus bertanya pada mereka berdua. Mereka memberi jawaban tentang perkembangannya. Saya yakin betul yang mereka katakan meski pada awalnya saya sulit menerima keadaan itu. Pelan-pelan saya menerima seiring dengan kondisi kesehatan Pastor Marini.

Dalam keadaan seperti ini, saya terus berharap ada perubahan. Itulah sebabnya, jawaban yang mengagetkan tadi saya pendam. Setiap kali ada pertanyaan dari Indonesia, saya selalu menjawab, kita tetap berdoa untuk Pastor Marini agar kuat dan cepat sembuh dalam masa perawatan ini. Jawaban ini saya berikan dengan harapan Pastor Marini bisa sembuh. Meski, dalam hati saya tahu ini sulit. Namanya juga kita berharap dan Tuhan yang akan menetukan keputusan akhir.

Rupanya pelan-pelan jawaban itu terungkap. Beberapa bulan lalu, Dokter Gildo menyampaikan kepada para konfrater di Lantai 4 tentang kondisi Pastor Marini. Pastor Marini juga mengamini semua yang dikatakn Dokter Gildo. Dokter Gildo mengatakan bahwa, dia sudah berusaha dengan berbagai jenis obat dan dengan berbagai jenis cara tetapi belum ada perubahan yang berarti. Dokter melanjutkan bahwa dia terus berusaha dengan berbagai cara baru termasuk mengganti beberapa jenis obat. Selebihnya, kata Gildo, kita berharap pada Tuhan. Demikian kira-kira inti kata-kata dari Dokter Gildo. Pastor Marini saat itu juga—di hadapan konfrater di lantai 4—memohon maaf karena tidak bisa hadir dalam setiap kegiatan doa. Marini beralasan, tidak ada gunanya dia datang berdoa karena tidak bisa berkosentrasi. Bahkan kadang tidak bisa mendengar dengan baik. Jadi, katanya, lebih baik dia berdoa di kamar saja.

Pemberitahuan dari Dokter Gildo ini makin jelas tentang kondisi Pastor Marini. Saya rasa pemberitahuan ini penting dan tentu saja menjadi penentu. Sebab, pasti Dokter Gildo tahu dengan baik kondisi Pastor Marini. Saya meneruskan pesan ini kepada para konfrater Xaverian di Indonesia dan di luar negeri. Tentu saja pesan ini—sekali lagi—mengangetkan bahkan mungkin seperti saya, SULIT DITERIMA. Demikianlah juga yang dialami oleh para konfrater saya.

Reaksi pun muncul. Ada yang membalas email saya tersebut dengan ucapan terima kasih dan berjanji untuk ikut mendoakan. Bahkan di beberapa tempat mereka mendoakan secara khusus dalam misa. Reaksi lain yang berbeda juga muncul. Ada yang seperti tidak bisa menerima keadaan ini. Saya paham. Pertanyaan pun ditujukan pada saya. Intinya mau bertanya apakah benar yang saya katakan itu. Atau jangan-jangan saya mengarang cerita, menciptakan berita yang tidak sesuai kenyataan. Bahkan sampai bertanya, apakah tidak ada lagi obat yang pas di lantai 4 yang bisa menyembuhkan Pastor Marini?

Saya mengerti dengan reaksi seperti ini. Saya anggap ini seperti yang saya alami ketika saya mendengar untuk pertama kalinya tentang kondisi Pastor Marini.

Saya tidak tahu bagaimana reaksi mereka ketika yang saya sampaikan itu menjadi nyata. Boleh jadi reaksi mereka juga kaget seperti yang saya alami. Memang, berita tentang kepergian Pastor Marini ini betul-betul mengangetkan banyak orang. Perasaan kaget seperti ini menjadi hal biasa. Apalagi untuk mereka yang sudah terbiasa melihat Pastor Marini dengan kesederhanaannya. Jadi, bagaimana mungkin Pastor Marini yang menjadi bagian dari keseharian kita, yang dekat dengan kita, kini menjadi bagian yang lain dari kehidupan kita? (bersambung)


Fr Gordi SX dari Parma


Berikutnya:
PASTOR MARINI BERBARING DI BAWAH SALIB CONFORTI






Berita itu mengejutkan. Meski hanya dalam satu kalimat, efeknya lebih dari sehari, seminggu, bahkan mungkin menjadi sebulan. Atau, boleh jadi sepanjang masa.

“Gordi, Padre Marini sudah meninggal,” demikian kata Frater Berto pagi itu.

Saya kaget dan hampir tidak bisa berkata-kata. Ingatanku seketika menjadi kabur. Bagaimana mungkin dia yang hidup kemarin sore hari ini menjadi mati? Demikian satu dari sekian kalimat yang muncul begitu saja di pikiran. Pastor Marini memang masih bisa bicara kemarin sore. Saya bertemu bahkan berbicara dengannya di kamarnya tepat setelah misa sore.

Pagi ini, Selasa 24 Mei 2016, saya mengajak Frater Berto untuk menjenguknya di Rumah Induk. Kami juga sudah sepakat untuk mengunjunginya pada jam 9 pagi. Kesepakatan itu memang terlaksana tetapi bukan untuk bertemu Pastor Marini yang seperti kemarin sore melainkan Pastor Marini yang sekarang.

Kami menuju Lantai 4 di mana Pastor Marini tinggal di bulan-bulan ini. Di depan kamar Pastor Marini, kami bertemu seorang pastor lain yang sedang mengusap air mata. Sementara di dalam kamar, kami melihat Dokter Gildo (seorang Bruder Xaverian) sedang membereskan kamar. Tidak ada lagi Pastor Marini yang sedang berbaring seperti kemarin sore. Saya menatap kosong. Tempat tidurnya kosong. Hanya ada layar TV di depan tempat tidur yang tidak bersuara dan tidak bergambar.

Tak lama berselang, keluar Dokter Gildo. Kami tanya padanya tentang Pastor Marini. Dari dia kami tahu bahwa Pastor Marini meninggal tadi pagi sekitar pukul 08.34 waktu Parma. Dia juga memberitahukan bahwa pastor sekarang sudah dipindahkan ke Lantai 2 di dekat tangga. Di situ ada satu kamar khusus untuk mereka yang sudah meninggal. Disemayamkan selama 1-2 hari. Dari lantai 4 kami turun ke lantai 2.

Benar kata Dokter Gildo. Pastor Marini sudah berada di kamar ini. Kami melihatnya sudah terbaring di tempat tidur. Pakaiannya bukan lagi pakaian orang sakit tetapi pakaian kebesarannya sebagai imam misionaris. Dia mengenakan pakaian misa di masa biasa, berwarna hijau. Di tangannya tergenggam rosario misioner. Matanya tertutup.

Sambil melihat dua pastor lain yang sedang membereskan tempat tidur Pastor Marini, saya menatapnya tiada henti. Dalam benak saya, Pastor Marini masih hidup. Masih sulit menerima kenyataan bahwa dia sudah berbeda dari kemarin. Tangan yang saya pegang kemarin sore masih tangannya yang ada di depan saya sekarang, yang menggenggam rosario misioner itu.

Agar tidak mengganggu mereka yang sedang bekerja, kami keluar dari ruangan. Kami melihat dari pintu saja. Hadir juga Dokter Gildo yang membantu membereskan pekerjaan di sini. Dua pastor lainnya membereskan perlengkapan lain seperti meletakkan kursi dan meja, lilin, bunga hidup, dan sebagainya. Ruangan ini akan menjadi ruang doa untuk sementara. Berdoa dengan Pastor Marini yang sedang berbaring. Di kursi-kursi inilah nantinya akan duduk para pengunjung yang datang dan ingin berdoa atau sekadar memberi salam kepada Pastor Marini.

Pikiran saya belum bisa masuk dalam situasi duka ini. Saya memang tahu bahwa Pastor Marini sudah meninggal tetapi bayangan akan Pastor Marini yang hidup masih kuat. Saya dan Frater Berto memutuskan untuk datang lagi sebab di sini masih ada pekerjaan. Sambil berjalan menuruni tangga, Frater Berto mengusap air matanya. Dia dan saya juga kami semua sedang bersedih.

Kesedihan ini rupanya menjadi bagian dari keseharian saya. Saya dan Berto pamit di lantai 1. Dia kembali ke rumah teologi dan saya menuju ruang baca di perpustakaan rumah induk. Di sana saya membaca tetapi saya tidak membaca dengan sepenuh hati. Bayangan Pastor Marini masih muncul. Memang duka ini sekaligus menguras pikiran saya. Apalagi di ruang baca inilah biasanya Pastor Marini mengisi waktu senggangnya dalam beberapa bulan terakhir.

Saat dia masih kuat membaca, dia selalu datang di ruang ini untuk sekadar membaca buku atau melihat majalah terbaru yang ada di ruang ini. Kami biasanya bertemu di ruangan baca ini. Selalu saja dia yang pertama tiba. Dari ujung ruangan saya bisa melihatnya sedang membaca.

Halaman demi halaman dari diktat kuliah itu saya buka. Tetapi, di setiap halaman saya selalu menemukan bayangan Pastor Marini. Pastor Marini memang sedang bersama kami di sini di hari-hari terakhir hidupnya. Kepergiannya seolah-olah hanya bayangan saja. Bayangan akan Pastor Marini yang hidup dan berbicara dengan kami masih kuat. (bersambung).

Fr Gordi SX dari Parma

Berikutnya:

KEPERGIANNYA MENGANGETKAN BANYAK ORANG

OBITUARI dan BIOGRAFI P. FRANCESCO MARINI SX (RIP)


P. Francesco Marini lahir di Venagrande, Ascoli Piceno (Italia) pada 19 September 1940.
Dari Seminari Ascoli Piceno, beliau melanjutkan studi sebagai calon imam Xaverian di Institusi St. Petrus Vincoli pada tahun 1956.
Pada 19 Oktober 1957 beliau mengikrarkan Profesi Pertama.
P. Francesco Marini ditahbiskan menjadi imam di Parma pada 17 Oktober 1965.
Setelah menyelesaikan studi teologi moral pada Universitas Alphonsianum di Roma, beliau mengemban tugas mengajar para mahasiswa di bidang studi Filsafat dan Teologi di Parma (1968-1976)
Beliau mendapat perutusan ke tanah misi Indonesia mulai 1976 hingga 1983 sebagai rekan imam di Paroki Aek Kanopan dan Aek Nabara (Keuskupan Agung Medan).
Pada tahun 1981-1983 menjabat sebagai Provinsial.
Pada tahun 1983 beliau terpilih sebagai anggota Direksi Jenderal dan pada tahun 1989 menjabat sebagai Superior Jenderal, hingga dipilih kembali untuk periode berikutnya pada 1996 hingga 2002.
Pada tahun 2003 ia kembali ke Indonesia, lalu ditugaskan sebagai rekan imam di Paroki St Matius Penginjil, Bintaro (Keuskupan Agung Jakarta) pada September 2003 hingga 2009.
P. Francesco Marini mendapat tugas sebagai formator di rumah pendidikan Skolastikat Jakarta mulai tahun 2010.
Pada Juli 2015 mengambil masa cuti ke Italia dan perawatan kesehatan di kampung halaman, Ascoli Piceno.
Selama November 2015 menjalani perawatan intensif di Rumah Induk Parma, hingga meninggalnya 24 Mei 2016.

*Buletin KELUARGA KITA edisi April-Mei 2016


P Marini berbaju batik bersama para sahabat di Jakarta-Indonesia



BERITA DUKA: Telah meninggal dunia dengan tenang, Pastor Francesco Marini SX di Rumah Induk Xaverian di Parma, Italia, pada Selasa, 24 Mei 2016 sekitar pukul 08.34 waktu Parma. Pastor Marini lahir di kota Ascoli, Italia pada 19 November 1940. Misa requiem di Parma akan diadakan pada Kamis, 26 Mei pukul 14.30. Di Indonesia, di Paroki St Matius Bintaro (tempat tugas P Marini SX, sebelum pindah ke Skolastikat Filsafat-Jakarta), akan diadakan pada Kamis, 26 Mei pukul 19.00 WIB. RIP. 

Diberdayakan oleh Blogger.