SAMBUTAN DAN KESAKSIAN
P. Antonius Wahyudianto (Provinsial-Indonesia)
Saat mendengar berita duka
cita dari Parma tentang meninggalnya P. Francesco Marini, saya pribadi dan
semua konfrater di Provinsi Indonesia tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Kami
selama ini sebenarnya dalam doa-doa harian selalu berharap bahwa tangan Allah
Bapa masih bisa memulihkan kesehatan P. Marini. Sehingga suatu hari nanti
beliau akan kembali di Indonesia, sebagai tanah misi yang dicintainya. Namun,
Bapa yang maha bijaksana itu berkehendak lain, karena Ia justru menginginkan
dan memanggil P. Marini untuk kembali ke pangkuan Bapa di surga.
Kami di Indonesia sungguh
merasa kehilangan sosok pribadi seorang Marini yang mempunyai pengetahuan
tinggi, namun sangat rendah hati. Senyuman yang meneduhkan dan sentuhan
karya-karya beliau baik di bidang pastoral dan formasi di Indonesia telah
mengharumkan provinsi kami. Sejauh saya ketahui dari berbagai konfrater, ketika
beliau untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di Indonesia dan berkarya di
Paroki Aek Kanopan dan Aek Nabara, di bidang pastoral pandangan dan ide-ide
beliau sangat inspiratif dan bersifat visioner. Sebagai salah satu contohnya,
kalau tidak salah, beliaulah yang pertama kalinya menggagas “suatu komunitas
campur antar pastor dan suster” di Aek Nabara, yang merupakan satu-satunya
komunitas lintas kongregasi yang sangat diapresiasi hingga hari ini oleh Bapak
Uskup Agung Medan, Mgr Anicetus Sinaga OFM Cap.
Menurut saya beliau
merupakan “orang besar”, yang lebih senang mendengar daripada banyak berujar. Meski
penuh kharisma, ia menampilkan diri sebagai orang biasa yang sangat bersahaja. Maka,
tidak mengherankan bahwa setelah lima tahun berkarya di Indonesia (1976-1983),
beliau kemudian dipercayakan sebagai Superior Regional di Indonesia. Tidak
cukup hanya sebagai Provinsial di Indonesia, beliau pun akhirnya dipilih
sebagai anggota Direksi Jenderal di Roma (1983-1989). Bahkan, terpilihnya P.
Marini sebagai Superior Jenderal selama dua periode menunjukkan bahwa beliau
adalah pribadi yang sungguh berkualitas tinggi dalam Konggregasi. Namun, beliau
seperti biasa, tetap rendah hati sekaligus
murah hati. Beliau merupakan salah satu yang terbaik yang kita miliki dalam
Konggregasi.
Kami bangga dan turut
bergembira tatkala mantan Superior Jenderal, sebagai “orang besar” yang rendah
hati itu, diutus kembali ke Provinsi Indonesia pada 2003. Sekali lagi, beliau
menjalankan tugasnya dengan rendah hati, walau hanya sebagai rekan imam atau
asisten pastor paroki, di Paroki St Matius Penginjil, Bintaro. Beliau pun tetap
bersikap taat setia tatkla menerima perutusan baru lagi dalam bidang formasi di
rumah pendidikan Skolastikat, Jakarta mulai akhir tahun 2009. Namun demikian, kami
tidak menduga bahwa masa cuti P. Marini untuk pulang kampung ke Italia bulan
Juli tahun lalu itu, menjadi saat berpulangnya beliau ke rumah Bapa untuk
selama-lamanya.
Bagi keluarga dan sanak
saudara P. Marini di Italia dan di manapun berada, kami satukan rasa duka cita
kami dengan saudara-saudari sekalian. Biarlah kita relakan P. Marini berada di
rumah Bapa,rumah yang penuh damai dan sukacita abadi. Beliau telah menjadi
pendoa yang abadi bagi kita semua di bumi ini.
P. Marini terkasih, kini senyum
dan tawamu yang menawan itu tak akan pernah lagi kami lihat. Meski sebenarnya senyum
itu masih kami butuhkan dan rindukan di bumi Indonesia ini. Namun, kami tidak
cemburu, bila senyummu itu juga diperuntukkan bagi para malaikat dan para kudus
di surga yang menyambutmu dengan penuh sukacita. Selamat jalan P. Marini menuju
kerajaan surga yang juga kau damba!
*Versi Italia-nya dibacakan dalam misa requiem Pastor Marini di Santuario Conforti, Parma, Italia

Posting Komentar