Halloween party ideas 2015

SAMBUTAN DAN KESAKSIAN
P. Antonius Wahyudianto (Provinsial-Indonesia)
 
Pastor Marini SX bersama para Xaverian lainnya 
dalam assemblea 2 tahunan di Jakarta
           
Saat mendengar berita duka cita dari Parma tentang meninggalnya P. Francesco Marini, saya pribadi dan semua konfrater di Provinsi Indonesia tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Kami selama ini sebenarnya dalam doa-doa harian selalu berharap bahwa tangan Allah Bapa masih bisa memulihkan kesehatan P. Marini. Sehingga suatu hari nanti beliau akan kembali di Indonesia, sebagai tanah misi yang dicintainya. Namun, Bapa yang maha bijaksana itu berkehendak lain, karena Ia justru menginginkan dan memanggil P. Marini untuk kembali ke pangkuan Bapa di surga.

Kami di Indonesia sungguh merasa kehilangan sosok pribadi seorang Marini yang mempunyai pengetahuan tinggi, namun sangat rendah hati. Senyuman yang meneduhkan dan sentuhan karya-karya beliau baik di bidang pastoral dan formasi di Indonesia telah mengharumkan provinsi kami. Sejauh saya ketahui dari berbagai konfrater, ketika beliau untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di Indonesia dan berkarya di Paroki Aek Kanopan dan Aek Nabara, di bidang pastoral pandangan dan ide-ide beliau sangat inspiratif dan bersifat visioner. Sebagai salah satu contohnya, kalau tidak salah, beliaulah yang pertama kalinya menggagas “suatu komunitas campur antar pastor dan suster” di Aek Nabara, yang merupakan satu-satunya komunitas lintas kongregasi yang sangat diapresiasi hingga hari ini oleh Bapak Uskup Agung Medan, Mgr Anicetus Sinaga OFM Cap.

Menurut saya beliau merupakan “orang besar”, yang lebih senang mendengar daripada banyak berujar. Meski penuh kharisma, ia menampilkan diri sebagai orang biasa yang sangat bersahaja. Maka, tidak mengherankan bahwa setelah lima tahun berkarya di Indonesia (1976-1983), beliau kemudian dipercayakan sebagai Superior Regional di Indonesia. Tidak cukup hanya sebagai Provinsial di Indonesia, beliau pun akhirnya dipilih sebagai anggota Direksi Jenderal di Roma (1983-1989). Bahkan, terpilihnya P. Marini sebagai Superior Jenderal selama dua periode menunjukkan bahwa beliau adalah pribadi yang sungguh berkualitas tinggi dalam Konggregasi. Namun, beliau seperti biasa,  tetap rendah hati sekaligus murah hati. Beliau merupakan salah satu yang terbaik yang kita miliki dalam Konggregasi.

Kami bangga dan turut bergembira tatkala mantan Superior Jenderal, sebagai “orang besar” yang rendah hati itu, diutus kembali ke Provinsi Indonesia pada 2003. Sekali lagi, beliau menjalankan tugasnya dengan rendah hati, walau hanya sebagai rekan imam atau asisten pastor paroki, di Paroki St Matius Penginjil, Bintaro. Beliau pun tetap bersikap taat setia tatkla menerima perutusan baru lagi dalam bidang formasi di rumah pendidikan Skolastikat, Jakarta mulai akhir tahun 2009. Namun demikian, kami tidak menduga bahwa masa cuti P. Marini untuk pulang kampung ke Italia bulan Juli tahun lalu itu, menjadi saat berpulangnya beliau ke rumah Bapa untuk selama-lamanya.   

Bagi keluarga dan sanak saudara P. Marini di Italia dan di manapun berada, kami satukan rasa duka cita kami dengan saudara-saudari sekalian. Biarlah kita relakan P. Marini berada di rumah Bapa,rumah yang penuh damai dan sukacita abadi. Beliau telah menjadi pendoa yang abadi bagi kita semua di bumi ini.

P. Marini terkasih, kini senyum dan tawamu yang menawan itu tak akan pernah lagi kami lihat. Meski sebenarnya senyum itu masih kami butuhkan dan rindukan di bumi Indonesia ini. Namun, kami tidak cemburu, bila senyummu itu juga diperuntukkan bagi para malaikat dan para kudus di surga yang menyambutmu dengan penuh sukacita. Selamat jalan P. Marini menuju kerajaan surga yang juga kau damba!

*Versi Italia-nya dibacakan dalam misa requiem Pastor Marini di Santuario Conforti, Parma, Italia 

            

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.