Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label P. Anton SX. Tampilkan semua postingan

Semangat kebangkitan para konfratres SX, Formatores dan Visitatores dalam menyongsong Kapitel Provinsi XVI

                   SELAMAT HARI RAYA PASKAH!



Setelah usainya Asemblea Xaverian di RR Canossa bulan Januari lalu, selama sekitar tiga bulan ini kita disibukkan dengan pelbagai kegiatan intern komuniter (Provinsi) dan pastoral  (Gereja Lokal) dalam menyambut Paskah Tuhan. Para Kapitularis mencari waktu untuk membahas Kertas Kerja bahan prekomisi (instrumentum laboris) secara pribadi maupun dalam sharing/diskusi bersama sesuai dengan tema pokok dan menurut kelompok wilayah kapitularis yang membahasnya, demi kerja praktisnya (baca via email tgl 25 Februari dan isi amplop hasil pemilihan pengganti yang dikirim via pos).

Koordinator Zona Jakarta sudah dibangkitkan semangatnya untuk mengajak anggota kapitularis di wilayah Jawa guna berkumpul demi membahas tema pokok III dan IV dalam kelompok prekomisinya. Sedangkan para kapitularis di wilayah Sumatera juga bersiap berkumpul untuk sharing bahan tema pokok I dan II.

Beberapa hari setelah kedatangan P. Luigi dan P. Pulcini pada 29 Februari, dengan semangat yang sama pula Dewan/provinsial mengadakan rapat khusus dengan Direksi Jenderal pada 2 Maret di Novisiat Bintaro. Kemudian hari berikutnya tgl 3 Maret dimulai suatu pertemuan para formatores Asia (Filipina dan Indonesia) di Novisiat Bintaro yang dikoordinir oleh P. Luigi dan P. Pulcini demi membangkitkan semangat sebagai pembina para formandi di rumah-rumah pendidikan di mana  berkarya. Temu formatores ini diakhiri pada 8 Maret 2016.

Berselang seminggu kemudian, P. Mario C Mula tiba di Jakarta pada 15 Maret dalam rangka mengadakan visitasi kanonik di Provinsi Indonesia dan akan didampingi P. Pulcini yang sudah berada di Indonesia dalam rangka mengkordinir temu formatores tersebut. Kedua visitatores akan berada di Provinsi Indonesia hingga di hari-hari pelaksanaan Kapitel Provinsi (26-30 April.

Dengan semangat kebangkitan Kristus Tuhan, para Xaverian di Indonesia khususnya para kapitularis dan formatores menyambut gembira kehadiran Visitatores dalam mempersiapkan Kapitel Provinsi XVI tersebut. Kapitel Provinsi XVI menjadi kesempatan, momen dan aktivitas penuh rahmat bagi kita Xaverian di Indonesia guna mengarahkan pandangan ke depan tentang karya misioner, karya pendidikan dan karya animasi di bumi pertiwi ini.

Marilah kita saling mendoakan untuk kelancaran dan kesuksesan kegiatan Kapitel serta pemilihan Dewan Provinsi yang baru untuk masa bakti 2016-2020. Semoga Allah Tritunggal Mahakudus yang berkaya dalam peristiwa dan misteri kebangkitan Sang Mesias, memberkati dan melimpahkan anugerah iman, harapan dan kasih di dalam hidup kita masing-masing.
  
Salam Xaverian,
P. Antonius Wahyudianto

* Buletin KELUARGA KITA edisi Februari-Maret 2016



Memaknai NATAL  & TAHUN BARU
dengan mereka yang di hulu

P. Anton bersama umat di Hulu-Mentawai, FOTO: P. Anton SX


Setiap kali menjelang perayaan Natal, saya selalu terkenang dengan kesahajaan, kesederhanaan dan serba kekurangan yang selalu ada, baik di pedalaman Bandorbon, Babarpara (Bangladesh) maupun di pelosok kampung yang terdapat di sekitar hulu sungai Tinambu, Bolotok, Matotonan, Sirisura/Saibi Hulu (Mentawai).

Di Bangladesh, masa Natal bertepatan dengan musim dingin yang kadangkala mencapai 7-10 derajat Celsius. Natal di pedalaman dan hulu sungai di Bangladesh identik dengan meningkatnya angka kematian di antara orang yang lanjut usia dan anak-anak. Penduduk yang miskin dan tua, yang tidak cukup selimut  tebal dan pakaian hangat untuk dikenakan, akan mudah merasa kedinginan sepanjang hari selama berhari-hari di dalam rumah yang tanpa alat pemanas (“heater”). Kelahiran Sang Almasih di bulan Desember di tanah Betlehem juga berlangsung dalam musim dingin.

Jerami-jerami yang biasa diletakkan di sekitar kandang dan dalam palungan Bayi Yesus pada 2000 tahun lalu, juga dipakai oleh kebanyakan orang Bangladesh di bawah tikar di atas tanah, yang menyerupai kasur empuk sebagai penghangat tubuh di saat tidur. Jerami-ierami kering itu pula yang dibakar setiap malam sebagai api unggun untuk mengusir hawa dingin pada musim dingin. Realitas kurangnya selimut dan baju hangat di rumah orang kecil dan papa di Bangladesh, juga dialami oleh bayi Yesus di Betlehem. Namun inilah keindahan Natal, di mana Allah yang menjadi manusia Yesus itu masuk ke dalam kesahajaan, kemiskinan dan serba kekurangan secara insani-duniawi.

Sementara itu, nun jauh di hulu-hulu sungai wilayah Paroki Muara Siberut, meski tidak ada musim dingin, namun sering berkabut di pagi hari yang menambah rasa dingin di sekujur tubuh. Merayakan Natal dalam gereja di malam hari, bila tidak ada perangkat genset (generator) atau lampu petromaks, umat  yang bersahaja cukup puas bila hanya diterangi cahaya dari beberapa lilin kecil atau dari sumbu lampu teplok yang tidak cukup menerangi seluruh ruangan gereja. Kadang cahaya lilin itu akan sirna bersamaan dengan usainya perayaan misa natal di malam hari. Sehingga, bila kita tidak membawa senter atau penerangan lainnya dari HP/korek api-matches, hanya kegelapanlah yang menjadi sahabat kita di malam hari, sama seperti suasana sekitar kandang natal di Betlehem yang sunyi dan gelap.

Namun di kesunyian dan kegelapan Betlehem di malam hari, di atas kandang tempat kelahiran Yesus itu justru diterangi jutaan bintang-gemintang yang bersinar terang. Demikian pula, di malam natal sekitar pedalaman dan hulu sungai wilayah Siberut (Mentawai) yang sepi dan gelap, kita justru bisa melihat ribuan kunang-kunang yang berterbangan memancarkan cahaya dari tubuhnya.

Natal bagi mereka yang ada di pedalamn dan hulu sungai Bangladesh dan Metawai, mampu dihayati umat kristiani sebagai gambaran dan lukisan kesahajaan Sang Mesias yang lahir ke dunia membawa cahaya dan kedamaian di hati. Meskipun kadang Natal di Bangladesh yang bertepatan dengan musim dingin itu  membawa kematian bagi bayi dan kaum tua lanjut usia, namun kematian itu menuju lorong kebangkitan jiwa dan badan di terang pintu surgawi. Dan sirnanya cahaya lilin-lilin kecil di akhir misa di atas meja altar tempat roti dan anggur dipersembahkan itu, turut berjasa dalam mengorbankan dirinya tanpa sia-sia; karena telah memberikan cahaya terang sepanjang perjamuan misa malam natal.

Selamat Natal dan Tahun Baru dalam kesederhanaan dan keugaharian raga dan jiwa.

P. Antonius Wahyudianto SX



Para Penderma dan Para Pewarta di mata Tuhan
 
Pesta Pelindung di Biara Padang, FOTO: P. Anton SX

Secara liturgis kita merayakan Pesta St Fransiskus Xaverius, Pelindung Karya Misi dan Pelindung Serikat Xaverian pada setiap tanggal 3 Desember. Untuk memfasilitasi partisipasi yang lebih meriah dan kehadiran lebih banyak sahabat/penderma, kita mengambil kebijakan untuk merayakan Pesta St Fransiskus Xaverius tersebut pada setiap hari Minggu, tanpa terikat tanggal yang resmi ditetapkan Gereja. Tahun ini kita merayakannya dengan para sahabat/penderma baik di Jakarta maupun Yogyakarta pada Minggu, 6 Desember.

Sedangkan di Biara Xaverian, Padang,  Pesta St Fransiskus secara liturgis dan meriah diadakan dua hari berturut-turut; yaitu pada 3 Desember, pukul 11.00 siang hari diperuntukkan bagi para imam/pastor (baik SX maupun Projo) dan para suster di sekitar kota Padang. Dalam perayaan ini diucapkan juga pembaharuan janji/kaul religius, setelah usai homili. Keesokan harinya masih di Padang, pada 4  Desember dirayakan Pesta Pelindung Serikat Xaverian itu secara khusus bersama para penderma dan sahabat setia Xaverian yang berdomisili di sekitar kota Padang.

Menurut keyakinan saya pribadi, meskipun kita sebagai komunitas dan umat Allah yang baik merayakan Pesta St Fransiskus Xaverius pada tanggal yang berbeda dan di tempat yang berbeda pula, namun di mata Tuhan perayaan Pelindung Serikat Xaverian tersebut mengandung rahmat sukacita dan persekutuan ilahi yang satu dan sama. Para Penderma adalah pribadi-pribadi yang murah hati dan selalu siap sedia untuk menyalurkan rahmat Penyelenggaraan Ilahi bagi Serikat kita.

Kita sebagai Pewarta atau misionaris-religius yang selalu aktif mewartakan Sabda Allah di mana pun kita berada, seyogianya selalu mengandalkan dan menggantungkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi. Sementara itu, Tuhan Allah tidak hanya mengutus para pewarta-Nya di tengah umat kesayangan-Nya, Ia juga dengan cara-Nya sendiri mengutus para penderma yang murah hati ke tengah-tengah para pewarta-Nya terkasih. Doa-doa kita yang panjatkan bagi para penderma setiap Adorasi-ekaristis-Kamisan di kapel/gereja, selalu diperhatikan, didengarkan dan dikabulkan Tuhan yang maha baik.

Sungguh, mata Tuhan tak akan pernah terlelap dan beristirahat demi menyediakan dan memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani kita sebagai Pewarta melalui tangan-tangan para penderma-Nya di sekitar kita. Setiap pekerja patutlah menerima imbalannya sendiri. Para Pewarta yang selalu sibuk melayani umat baik di paroki maupun di tempat lain pada masa Natal Sang Imanuel, tentu dilihat dan diperhatikan oleh-Nya dalam rupa  “Allah beserta kita”. Setiap perayaan Pelindung Serikat kita, St Fransiskus Xaverius, mengungkapkan campur tangan Tuhan sendiri yang selalu aktif dan kreatif melindungi, menyertai dan menyejahterakan para pewarta/misionaris-Nya berkat kemurahan hati dan sikap kedermawanan para penderma yang diutus Tuhan menjadi sahabat dekat kita.

Pantaslah kita saat ini juga mendoakan para penderma yang tulus dan setia sepanjang masa.

Salam Xaverian,
P. Antonius Wahyudianto

*Dimuat di KELUARGA KITA Desember 2015


Kelimpahan Tahun Rahmat Tuhan dalam Retret Tahunan dan Kaul kekal
        
Para Xaverian dalam retret tahunan 2015, FOTO: P. Anton

Retret Tahunan Xaverian (26-30 Oktober di Biara Xaverian-Padang) yang tahun ini mengusung tema “Hidup bakti demi karya misi”—yang dipandu P. Guido Situmorang OFM Cap—bagi saya pribadi dan mungkin bagi konfrater lainnya menjadi tahun rahmat Tuhan yang melimpah. Pendalaman refleksi hidup bakti yang menyangkut spiritualitas dan kharisma Xaverian mengajak kita untuk pertama-tama menyukuri dan bersukacita atas hidup bakti (religius) yang kita jalani dan hayati dalam konteks sehari-hari. Khususnya dalam konteks hidup bersama, P. Guido secara indah menggaris bawahi makna kehidupan persaudaraan sebagai berikut;

“Di dalam hidup bersama hati kita terhibur mendengarkan tutur kata para saudara yang lembut, ramah, bersahabat. Hati tersentuh menyaksikan penampilan saudara yang tulus, rendah hati, jujur, sederhana. Hati terpesona melihat kerajinan dan ketanggapan saudara tertentu mengurus keperluan rumahtangga. Renungan atau khotbah teman serumah, pada ibadat atau perayaan ekaristi menjadi sumber air hidup bagi kita, yang menimbulkan keberanian untuk maju serta melahirkan rasa tobat di dalam hati kita. Semua itu adalah tanda-tanda kehidupan dari Allah di tengah-tengah kita. Kita patut bersyukur kepada Tuhan bahwa ada saudara, bahwa ada kesempatan atau peristiwa yang merupakan pengingat bahwa hidup Xaverian sungguh mempunyai arti, mempunyai citarasa, mempunyai daya pikat bagi kita sendiri dan bagi orang lain. Kita yakin lagi “Tuhan mencintai kita.” Banyak hal lain lagi”.

Kegiatan dan dinamika retret tahunan kita menjadi kesempatan untuk merasakan roh kebersamaan sebagai sama saudara dalam konteks Bina Lanjut (la formazione permanente). Tuhan begitu murah hati dan belas kasihNya tak terbatas terhadap Serikat kita yang kita cintai ini yang kita alami sepanjang 5 hari retret. Semoga rahmat melimpah yang kita terima dari Tuhan dalam retret tahunan ini, menjiwai dan menyemangati hidup kita dalam menjalankan karya dan kegiatan kita sehari-hari sebagai misionaris Xaverian.

Lebih lanjut lagi, pada tahun ini hendaknya kita mensyukuri pula kelimpahan rahmat Tuhan yang kita terima melalui empat konfrater Indonesia yang dengan penuh setia mengikrarkan Kaul Kekalnya di berbagai tempat; Br Kornelius Glossanto (25/10 di Toasebio-Jakarta); Fr. Justin Hibur (5/11 di Manila); Fr Hotman Sitanggang dan Fr Ferdinandus Supandri (5/11 di Parma). Keempat konfratres kita merupakan “rajawali-rajawali yang siap terbang tinggi guna menyampaikan kabar sukacita Allah kepada segala bangsa”.

Perayaan ekaristi pengikraran kaul kekal yang diintegrasikan dengan Pesta Bapa Pendiri Serikat kita itu menandakan bahwa roh-jiwa-semangat Confortian yang berasal dari Allah sendiri selalu menaungi para Xaverian muda yang akan membaktikan dirinya bagi karya misi di masa depan.

Marilah kita sekali lagi mensyukuri kelimpahan rahmat Tuhan kita yang kita terima dalam semangat persaudaraan, tidak hanya selama retret tahunan dan perayaan kaul kekal, melainkan setiap hari sepanjang perjalanan hidup bakti kita di bumi ini.

Salam Confortian,
(P.Antonius Wahyudianto )


*Dimuat di majalah KELUARGA KITA-PADANG edisi Okt-Nov 2015

Antara Imam,  Agustusan, dan
Lintas Iman

FOTO, Yosefina I. Marwulaningsih
        
Beberapa hari sekembalinya ke tanah air, usai mengikuti temu para Superior SX di Tavernerio (Italia), saya tinggal di rumah pendidikan Skolastikat Xaverian guna mengantisipasi perayaan kemerdekaan RI ke-70. Saya mendengar dari konfrater di Cempaka Putih Raya bahwa sore hari tepat tanggal 17 Agustus, akan diadakan “Ramah Tamah Penutupan Agustusan” dengan warga RT/RW sekitar, yang mengambil tempat di lapangan futsal skolastikat. Kesempatan emas ini tentu tidak akan saya sia-siakan, karena meman jarang-jarang saya ada di Jakarta ketika perayaan Agustusan berlangsung.

Maka, sekitar jam 18.30, usai misa di skolastikat, saya maju merapat dengan para pastor, frater-frater di lapangan futsal sembari menunggu tamu-tamu, para warga RT 012/RW 004 setempat, yang akan menghadiri acara resepsi makan malam bersama atau “silaturahmi kemerdekaan”, sekaligus menutup rangkaian kegiatan Agustusan yang sudah dimulai sejak pagi harinya. Bagi saya pribadi, sebagai imam misionaris, setiap kali mengadakan perayaan Agustusan selalu teringat pula akan sahabat-sahabat setanah air dan para imam/konfrater di mancanegara yang mungkin merayakan Agustusan di kedubes-kedubes RI setempat.

Saat saya berkarya selama 11 tahun di Bangladesh dulu, sebagai warganegara yang baik dan sebagai misionaris sejati, saya hampir tidak pernah absen dalam perayaan Agustusan di Kedubes RI, Dhaka. Selain bisa bergabung dan bercanda ria dengan semua lapisan masyarakat yang berbeda iman, saya sendiri selalu “merinding” saat mengikuti upacara bendera. Ada rasa rindu yang mendalam dan terharu saat menyanyikan lagu “Indonesia Raya” bersama warganegara Indonesia di negeri orang.

Juga tatkala pada pembukaan acara Agustusan petang ini, saya sebagai imam ikut menyanyikan kembali lagu yang sama, “Indonesia Raya”, bersama warga RT/RW yang umumnya ibu-ibu berjilbab beserta bapak-bapaknya yang berkopiah, maka keindonesiaan dan kekatolikan dalam kalbuku menyatu di tulang sumsum. Kemudian, P.Ruby, P.Ciroi, saya sendiri (sebagai imam-imam Katolik) terlibat obrolan ringan dan asyik bersama para sesepuh RT serta Bapak RT, sebagai “tamu-tamu kehormatan” yang ditempatkan di deretan paling depan dengan sofa yang empuk dan sejuk. (Para frater jangan ngiri!). Hadir pula saat itu Diakon Romualdus Juang yang akan mempersiapkan diri berangkat ke Maumere menyongsong tahbisan imamatnya pada 14 September. Anak-anak dan remaja RT sekitar bercengkerama ria dengan para frater—calon imam—seperti dengan saudara kandung sendiri. Tanpa sungkan, hambatan dan tanpa sekat para warga lintas iman berjoged ria, dangdutan bersama calon imam dalam semangat 45!

Iman yang berbeda, warna kulit, suku, bahasa dan jenis rambut yang beda (entah keriting atau rebounding), jilbab dan kopiah yang melambangkan keislaman berbaur manis dan indah dalam “rumah kekatolikan para calon imam” itu. Syukur alhamdulillah, setelah 70 tahun kemerdekaan RI, kalau tidak salah, pada tahun ini rumah skolastikat (resmi dihuni pada 1985) bersama warga RT/RW setempat sudah 30 kali mengadakan acara atau “gawean Agustusan” yang bernuansa lintas iman. Betapa Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang itu begitu bersuka cita di surga sana, menyaksikan insan-insan ciptaanNya yang berbeda iman sedang menyatu, mengeluarga, mengindonesia sembari menyantap gado-gado, sate ayam, sup racikan warga muslimin dan muslimat di Wisma Xaverian yang dihuni calon-calon imam dan para imam. Insyaallah, kemesraan/kebersamaan antara calon imam, para imam, di rumah pendidikan-skolastikat dengan warga setempat saat Agustusan ini, “janganlah cepat berlalu.....”

Salam kemerdekaan,

P.Antonius Wahyudianto

*Dimuat di KELUARGA KITA edisi agustus-september 2015

MENCINTAI HIDUP BAKTI DALAM DINAMIKA BINA LANJUT
 
Kaul pertama di rumah novisiat, Bintaro 2015

Setiap kali merayakan misa pengikraran Profesi Pertama Para Frater Skolastikat, selalu mengingatkanku akan hari profesi pertamaku sendiri pada 10 Juli 1988. Demikian pula terjadi ketika pada 1 Juli 2015 lalu, sebagai Provinsial, saya memimpin misa kudus dalam rangka pengikaran kaul pertam keempat frater kita yakni, Fr Gindo, Fr Kardi, Fr Kasimirus, dan Fr Ovan. Yang selalu saya ingat tentang pengikraran kaul pertama adalah bahwa Magister Novis kami dulu selalu mengingatkan kami agar menempatkan lembaran kertas yang berisi formula kaul religius di atas meja belajar. Tujuannya adalah supaya kami selalu ingat akan janji/kaul yang diucapkan itu, sebagai sumpah setia sampai mati untuk tetap menjalankan hidup bakti, hidup kaul-kaul kebiarawanan, murni, miskin, dan taat.

Mencintai, menghayati dan mengidupi kaul-kaul religius sampai mati, menurut saya hampir sama seperti sepasang suami isteri saat menerimakan Sakramen Perkawinan yang saling berjanji untuk sehidup semati tetap satu, dalam untung dan malang dan tak terceraikan. Perayaan Misa Pengikaran Profesi Pertama bagi keempat frater di kapel Novisiat Bintaro pada awal Juli itu, adalah tanda yang nyata akan janji setia mereka untuk mencintai hidup bakti sampai mati. Pengikraran kaul bukanlah soal liturgis-seremonial, ucapan bibir di bibir semata, dan penandatanganan lembaran formulasi kaul masing-masing frater. Kaul-kaul yang diikrarkan itu mesti dihidupi, dicintai, dihayati dalam daging dan darah, jiwa-raga dan disertai iman yang teguh demi menjadi murid Kristus secara radikal. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu komitmen, dedikasi, disposisi yang kokoh, bantuan Roh Kudus dalam mencintai hidup bakti sampai mati.
 
Para Provinsial Xaverian dari 20 negara bersama direksi jenderal
dari Roma, dalam pertemuan di Tavernerio, Italia, Agustus 2015
Dalam pertemuan para superior provinsi (COSUMA), yang saya hadiri di Tavernerio 26 Juli - 8 Agustus lalu, tema utamanya memfokuskan kembali dinamika hidup bakti dalam proses Bina Lanjut, “la formazione permanente” . Dalam terang COSUMA, sebagai misionaris sekaligus religius, setiap Xaverian dihimbau untuk mampu menghayati dan mempraktekkan hidup bakti hari demi hari sebagai proses yang tak pernah berhenti demi menjadi seperti Kristus, atau “alter Christus” yang utuh. Proses dan dinamika Bina Lanjut itu mesti tetap dihayati mulai dari masa inisiasi ke dalam kongregasi hingga akhir hayat. Bina Lanjut sebagai perwujudan bina diri sebagai religius-misioner tak mengenal usia dan masa. Bina Lanjut adalah kebutuhan mutlak bagi orang yang menjalankan hidup bakti sebagai murid Kristus sejati.

Mereka yang mengikrarkan kaul-kaul kebiaraan mesti menempuh lorong-lorong olah diri dan Bina Lanjut yang terus-menerus menuju kesempurnaan. Dalam konteks ini, kaul-kaul kebiaraan merupakan tindakan “kemartiran tanpa darah” yang selalu harus dibina, dihidupi, direngkuh, dipeluk hingga akhir zaman.  Upacara pengikraran kaul pertama pada awal Juli di Bintaro sudah usai; demikian pula COSUMA di Tavernerio 26 Juli-8 Agustus telah berakhir. Namun, perjuangan dan peziarahan rohani dalam penghayatan kaul-kaul masih panjang, melalui proses Bina Lanjut hingga usai lanjut. Semoga Allah Tritunggal Maha Kudus dan Bapa Pendiri kita selalu memberkati kita para Xaverian dalam rangka mencintai Hidup Bakti sampai mati dalam dinamika Bina Lanjut yang tanpa henti.


Salam persaudaraan in omnibus Christus,

P.Antonius Wahyudianto SX

*Dimuat di bulletin KELUARGA KITA nomor 39 edisi Mei-Juli 2015

MENJUMPAI ALLAH DALAM KEHENINGAN NATAL KELUARGA
NAZARETH DAN KEGEMBIRAAN PESTA KELUARGA XAVERIAN
 
Keluarga Mentawai, FOTO: P Anton SX
Lukisan-lukisan kartu natal yang digambarkan para seniman sekitar kelahiran Yesus umumnya bernuansa hening, teduh, dan damai. Bayi Yesus didampingi Yusuf dan Maria serta beberapa gembala dan ternaknya di kandang natal yang sederhana, lusuh dan jauh dari kemewahan. Dialah Sang Almasih, Mesias,  atau Sang Imanuel (Allah beserta kita), yang telah hadir dan masuk dalam sejarah manusia di dunia dengan kesahajaan dan keheningan malam yang kudus.
        
Keluarga Kudus di Nazareth menjadi teladan bagi kita dalam memelihara dan menjaga keheningan peristiwa Natal Tuhan. Namun, justru dari dalam keheningan sekitar kandang Natal itu, dunia memancarkan terang bintang-gemintang dan para malaikat bernyanyiria di surga. Sementara itu para gembala di padang Betlehem pun bersorak-sorai gegap gempita sambil bergegas menuju tempat kelahiran Sang Penebus Dunia di gua NatalNya.

Dalam keheningan malam kudus di Betlehem umat manusia seluruh dunia melihat Sang Terang. Juru Selamat Dunia telah datang! Kita menyambut kehadiran Tuhan dalam keheningan dan kedamaian hati kita. Oleh karena itu dalam rangka perayaan Natal, kita perlu menjaga suasana hati kita agar tidak gaduh, galau, gamang atau gusar saat menerima kedatangan Tuhan dalam diri kita atau saat menyambut Tahun Baru!

Sebagai Xaverian dan pewarta Kabar Gembira, kita juga dituntut untuk selalu mampu memancarkan Sukacita Injil (“Evengelii Gaudium”). Paus Fransiskus menandaskan bahwa seorang pewarta kabar sukacita hendaknya jangan tampil seperti seorang yang baru saja pulang dari penguburan orang mati. Dengan kata lain, kodrat dan jadi diri seorang pewarta, mesti juga tampil dalam pribadi setiap Xaverian kala mewartakan kabar gembira Injili. Pesta St Guido M. Conforti (5 Nov) dan Pesta St Fransiskus Xaverius (3 Des) menjadi kesempatan bagi kita untuk menampilkan wajah-wajah Xaverian yang ceria, gembira, penuh harapan dan semangat misioner yang menyala-nyala.

Kemeriahan perayaan ekaristi kudus dalam rangka pesta Pendiri dan Pelindung Serikat Xaverian itu mesti selalu kita pelihara dan pertahankan. Khususnya dalam rangka Pesta St Fransiskus Xaverius (3 Des), kita biasanya merayakan Ekaristi Kudus bersama para sahabat dan penderma kita dengan penuh kegembiraan dan sukacita yang melimpah. Dalam rangka pesta ini pula kita menyuguhkan presentasi situasi karya kabar gembira di seluruh dunia, serta diimbuhi dengan acara ramah-tamah meriah dan perjamuan makan bersama dalam suasana penuh kekeluargaan. Dan yang paling penting kita ingat adalah bahwa dalam kegembiraan pesta pelindung karya misi, Tuhan hadir dalam diri para sahabat dan penderma yang murah hati dan dermawan.

Dalam kehadiran para penderma itu, Allah juga hadir melalui Penyelenggaraan Ilahinya yang selalu mendukung eksistensi karya misi Xaverian secara menakjubkan di seluruh dunia. Itulah sebabnya, saat kita merayakan Pesta St Fransiskus Xaverius (3 Des), pantaslah kita berdoa tanpa henti, bersyukur dan berterima kasih kepada para sahabat dan penderma kita yang selalu setia menyokong Serikat kita secara spiritual dan finansial. Kita tetap membawa dan mengingat para sahabat dan penderma kita dalam doa-doa kita, khususnya dalam acara Adorasi atau Sembah Sujud setiap hari Kamis.

Demikianlah hendaknya kita selalu bisa menjumpai Allah dalam keheningan dan kesahajaan kelahiran Tuhan dalam Keluarga Kudus di Nazareth, serta dalam kegembiraan pesta Pendiri Serikat dan Pelindung Karya Misi Xaverian di seluruh dunia. Semoga Sang Imanuel yang kita jumpai dan sambut dalam keluarga pastoran/paroki atau keluarga komunitas kita masing-masing membawa Sukacita Injili dalam hati kita, para Xaverian. Semoga.

Selamat merayakan Natal dengan suka cita injili dan memeriahkan Tahun Baru 2015 dengan semangat evangelisasi baru!

Salam persaudaraan in omnibus Christus,

P.Antonius Wahyudianto SX

*Dimuat di majalah KELUARGA KITA nomor 36 edisi Nov-Des 2014


Diberdayakan oleh Blogger.